Sabtu, 30 April 2011

Dimanakah Alloh

Sulit sekali diriku menjawab hal itu..
bukan karena tidak tahu
tapi malu...
malu...
malu untuk menjawabnya
dan takut untuk memulainya...
Hmm....
Allah selalu dekat dengan hambaNya
lebih dekat dari urat nadi kita malah....
namun apakah Allah berkehendak untuk dekat dengan diriku...
yang tak pernah mengingatNya....bahkan sering lupa padaNya?????
ya Allah....
Ampuni dosa hamba....


oleh Icem Nafeeza pada 07 Agustus 2010 jam 14:38

Ketika semua tak ada lagi

oleh Icem Nafeeza pada 17 Oktober 2010 jam 0:40
hawa sejuk menemaniku malam ini

membawaku larut dalam imaji

namun bulan seakan marah padaku

dia tak nampak barang satu menit

bintang....

bintang pun tak mau mengedipkan sinarnya padaku

hujan....

hujan yang hendak turun...

menolak tuk membahasi diriku

ada apa gerangan???

hingga semuanya menjauhiku dan marah padaku??



hah..ternyata itu semua hanya imajiku

yah..imaji yang nyata..

dan sangat nyata..

yang membawaku pada ketakutan

ketakutan pada diri

yang tak pernah luput dari dosa

Takut

takut tuk memikirkannya
takut tuk mengingatnya
takut
dan sangat takut
namun stp kali diriku menjahui ketakutan itu
yg ada ketakutan itu semakin dkat
dan sangat dkat
seakan ingin mncekikku
dan mnahanku tuk tak brnafas
ketakutan itu
takut
takut

yakinlah sebuntu apa pun sebuah jalan
pasti ada jalan bantu mski tdk selebar jlan buntu
dan yakinlah kamu pasti bsa melewatinya dg baek..
Sungguh ALLAh Mahakuasa..

Telaah Buku Teks


TELAAH BUKU TEKS

I. IDENTITAS BUKU TEKS
1.   Judul Buku            : Bahasa dan Sastra Indonesia
2.   Pengarang             : Eny Azizah
Yasir
 Noor Rina
3.   Cetakan                 : -
4.   Tahun Terbit          : 2007
5.   Penerbit                 : SMANSAKU Press
6.   Kota  Terbit           : Kudus
7.   Ditujukan kepada : Siswa SMA/MA Kelas XII program Ilmu Alam dan
Ilmu Sosial

II. SUDUT PANDANG PENDEKATAN
Bahasa Indonesia merupakan sarana komunikasi dan sastra merupakan salah satu hasil budaya yang menggunakan bahasa sebagai sarana kreativitasnya. Bahasa dan sastra Indonesia seharusnya diajarkan kepada siswa melalui pendekatan yang sesuai dengan hakikat dan fungsinya.
Dalam kehidupan sehari-hari, fungsi utama bahasa adalah sarana komunikasi. Bahasa dipergunakan sebagai alat untuk berkomunikasi antarpenutur untuk berbagai keperluan dan situasi pemakaian. Untuk itu, orang tidak akan berpikir tentang sistem bahasa, tetapi berpikir bagaimana menggunakan bahasa ini secara tepat sesuai dengan konteks dan situasi. Jadi, secara pragmatis bahasa lebih merupakan suatu bentuk kinerja dan performansi daripada sebuah sistem ilmu. Pandangan ini membawa konsekuensi bahwa pembelajaran bahasa haruslah lebih menekankan fungsi bahasa sebagai alat komunikasi daripada pembelajaran tentang sistem bahasa.
Sementara itu, sastra adalah satu bentuk sistem tanda karya seni yang menggunakan media bahasa. Sastra ada untuk dibaca, dinikmati, dan dipahami, serta dimanfaatkan, yang antara lain untuk mengembangkan wawasan kehidupan. Jadi, pembelajaran sastra seharusnya ditekankan pada kenyataan bahwa sastra merupakan salah satu bentuk seni yang dapat diapresiasi. Oleh karena itu, pembelajaran sastra haruslah bersifat apresiatif. Sebagai konsekuensinya, pengembangan materi, teknik, tujuan, dan arah pembelajaran sastra haruslah lebih menekankan kegiatan pembelajaran yang bersifat apresiatif.
Pendekatan pembelajaran bahasa yang menekankan aspek keterampilan berbahasa dan fungsi bahasa adalah pendekatan komunikatif, sedangkan pendekatan pembelajaran sastra yang menekankan apresiasi sastra adalah pendekatan apresiatif. Pendekatan lain yang biasa digunakan dalam setiap pembelajaran adalah pendekatan proses dimana siswa secara aktif dan kreatif dengan bimbingan guru berusaha menemukan pola-pola berbahasa dengan cara mencatat pola-pola bermakna yang dijumpai dalam setiap kegiatan berbahasa di kelasnya untuk kemudian menggunakannya dalam kegiatan komunikasi sehari-hari, baik komunikasi lisan maupun komunikasi tulis.
Ketiga pendekatan tersebut di atas adalah yang dipakai oleh ketiga penyusun buku teks Bahasa dan Sastra Indonesia. Hal ini telihat dari kata pengantar yang disampaikan penyusun.

”Tujuan akhir pengajaran Bahasa Indonesia adalah agar siswa mampu menggunakan bahasa Indonesia secara baik dan benar, baik secara lisan maupun tulisan…..”
Dari pendahuluan yang ditulis oleh tim penyusun buku, memperlihatkan bahwa penyusunan buku Bahasa dan Sastra Indonesia ini bertujuan untuk mencapai tiga pendekatan yang telah dipaparkan di atas, yang mencakup materi bahasa dan sastra. Materi dalam buku Bahasa dan Sastra Indonesai yang penulis kaji ini mencakup materi pelajaran dan tugas-tugas yang harus dikerjakan siswa serta evaluasi untuk mengetahui daya serap siswa setiap akhir pelajaran.
III. TUJUAN
            Seperti yang telah dijelaskan dalam sub bab sudut pandang pendekatan di atas, tujuan penulisan buku teks ini telah dijelaskan oleh penyusun buku teks yang dituliskan dalam kata pengantarnya. Pada intinya, penyusunan buku teks ini adalah agar siswa mampu menggunakan bahasa Indonesia secara baik dan benar, baik secara lisan maupun tulisan. Di samping itu, pengajaran bahasa Indonesia di dalam kelas diharapkan mampu menyerap dan memberikan tanggapan terhadap informasi lisan dan tulisan dalam berbagai keperluan, sehingga siswa dapat menggunakan bahasa secara baik dan benar dalam mengungkapkan pikiran dan penalarannya.

IV. BAHAN

A. Kelayakan Materi
1. Kesesuaian Materi Buku Teks dengan Kurikulum
Kurikulum adalah suatu program pendidikan yang berisikan berbagai bahan ajar dan pengalaman belajar yang diprogramkan secara sistemik atas dasar norma-norma yang berlaku yang dijadikan pedoman dalam proses pembelajaran bagi tenaga kependidikan dan peserta didik untuk mencapai tujuan pendidikan. Kurikulum juga merupakan suatu usaha untuk menyampaikan asas-asas dan ciri-ciri yang penting dari suatu rencana pendidikan dalam bentuk yang sedemikian rupa sehingga dapat dilaksanakan oleh guru di sekolah.
Pada kurikulum Bahasa Indonesia 2004 kemampuan berbahasa dibedakan menjadi dua, yaitu kemampuan terhadap materi kebahasaan dan kemampuan materi kesastraan sehingga dituntut dalam setiap keterampilan berbahasa (mendengar, berbicara, membaca dan menulis) kedua kemampuan berbahasa tersebut harus mendapat perhatian. Materi yang ada dalam buku teks Bahasa dan Sastra Indonesia yang kami telaah ini telah mencerminkan hal tersebut. Kelengkapan materi dalam buku teks ini bisa dilihat dari adanya wacana, pemahaman terhadap wacana, fakta kebahasaan dan kesastraan dan juga adanya penerapan konsep dasar baik dari materi kebahasaan maupun kesastraan melalui pelatihan, tugas serta kegiatan mandiri sehingga peserta didik mampu menggali dan memanfaatkan informasi serta menyelesaikan masalah yang ada.


2. Keakuratan Materi
Materi yang disajikan dalam buku teks ini telah disesuaikan dengan tingkat pemahaman siswa kelas XII SMA/MA. Hal ini terlihat dari berbagai macam wacana yang disajikan telah sesuai dengan kebutuhan dan kondisi siswa.
Keakuratan konsep dan teori terlihat sesuai dengan memperhatikan kesesuaian antara teori dan konsep yang disajikan untuk mencapai Kompetensi Dasar (KD) dengan menggunakan berbagai pengertian dari bidang ilmu bahasa (linguistik) dan ilmu sastra. Selain itu, keakuratan teori dan konsep itu terlihat juga dalam penggunaannya yang tepat sesuai dengan fenomena yang dibahas dan tidak menimbulkan tafsir ganda (ambigu).

3. Keakuratan dalam memilih contoh
Dalam contoh-contoh latihan yang disajikan dalam buku teks yang dikaji, menunjukkan keruntutan konsep dari yang mudah ke yang sukar, dari yang konkret ke abstrak, dari yang sederhana ke yang kompleks dari yang telah dikenal sampai ke pengembangannya.
Penulis mengambil materi pada mata pelajaran pertama untuk dijadikan contoh. Tema pada pelajaran pertama adalah “Menyampaikan Program Kegiatan”. Sebelum siswa diajak masuk ke dalam materi penyampaian program kegiatan, terlebih dulu siswa harus  menyampaikan program atau kegiatan apa yang siswa ikuti di sekolah. Kegiatan ekstrakurikuler apa yang pernah didikuti siswa dan bagaimana keterlibatan siswa dalam kegiatan tersebut. Setelah siswa mengungkapkan semua kegiatan yang pernah diikutinya, kemudian siswa diajak untuk menganalisis kegiatan apa saja yang pernah dilakukan dalam organisasi/kegiatan yang pernah diikutinya tersebut. Apakah siswa pernah menyusun proposal kegiatan yang pernah diikutinya? Setelah itu, siswa diajak untuk mengetahui cara penulisan proposal kegiatan yang baik dan benar. Dan setelah siswa diajarkan bagaimana cara penulisan proposal yang baik dan benar,  diharapkan siswa mampu untuk menyusun proposal dengan baik dan benar pula. 

B. Pendukung Materi Pembelajaran
1.   Relevansi ilustrasi dengan tema atau subtema.
Dengan menggunakan media gambar, dapat membantu siswa untuk lebih mempermudah menyerap materi yang ada dalam buku. Selain itu, dengan penggunaan media gambar materi yang disampaikan akan lebih tahan lama dalam memori siswa daripada hanya dengan menggunakan kata-kata saja.
Selain itu, media gambar pun bisa membuat tampilan buku ini lebih menarik minat siswa untuk mempelajari materi di dalamnya, dan dalam sebagian besar bab dan subbab buku ini menampilkan ilustrasi, baik yang berupa gambar, grafik maupun tabel.
Dan sejauh pengamatan penulis, kesesuaian penggunaan ilustrasi dalam buku yang penulis kaji telah dilakukan dengan cukup baik. Hal ini terlihat dengan tidak adanya penggunaan ilustrasi yang tidak sinkron dengan materi yang disampaikan.

2. Relevansi materi dan bahan dengan tingkat usia siswa
Dalam tahap perkembangannya, siswa SMA berada pada tahap periode perkembangan yang sangat pesat dalam setiap aspeknya. Salah satu aspek tersebut adalah aspek kognitif.
Menurut Piaget (1970), tahap yang terjadi pada siswa SMA adalah tahap operasional formal. Pada tahap ini, yang berkembang pada siswa adalah kemampuan berpikir secara simbolis dan bisa memahami sesuatu secara bermakna tanpa memerlukan objek yang konkret, bahkan objek yang visual. Siswa telah memahami hal-hal yang bersifat imajinatif. Dengan kata lain, dalam tahap ini siswa telah mampu untuk berfikir mengenai benda-benda yang abstrak dan telah mampu untuk menentukan hioptesis.
Implikasinya terhadap pembelajaran bahasa Indonesia adalah belajar akan bermakna apabila input (materi pelajaran) yang disampaikan sesuai dengan minat dan bakat siswa. Pembelajaran bahasa Indonesia akan berhasil apabila penyusun silabus dan guru mampu menyesuaikan tingkat kesulitan dan variasi input dengan harapan serta karakteristik siswa sehingga motivasi belajar mereka berada pada tingkat maksimal.
Pada tahap perkembangan ini juga berkembang ketujuh kecerdasan dalam Multiple Intelligences yang dikemukakan oleh Gardner (1993), yaitu: (1) kecerdasan linguistik (kemampuan berbahasa yang fungsional), (2) kecerdasan logis-matematis (kemampuan berpikir runtut), (3) kecerdasan musikal (kemampuan menangkap dan menciptakan pola nada dan irama), (4) kecerdasan spasial (kemampuan membentuk imaji mental tentang realitas), (5) kecerdasan kinestetik-ragawi (kemampuan menghasilkan gerakan motorik yang halus), (6) kecerdasan intra-pribadi (kemampuan untuk mengenal diri sendiri dan mengembangkan jati diri), (7) kecerdasan antarpribadi (kemampuan memahami orang lain). Ketujuh macam kecerdasan ini sesuai dengan karakteristik keilmuan bahasa Indonesia, dan akan dapat berkembang pesat apabila dapat dimanfaatkan oleh guru bahasa Indonesia untuk berlatih mengeksplorasi gejala alam, baik gejala kebendaan maupun gejala kejadian/peristiwa guna membangun konsep bahasa Indonesia.
Dengan melihat kedua teori di atas, terlihat bahwa materi yang ada pada buku teks ini  telah menerapkan teori tersebut di atas dalam penyusunannya. Ilustrasi-ilustrasi yang disajikan menimbulkan imajinasi pada diri pemakai buku ini (siswa). Siswa akan lebih mudah menganalisis informasi atau materi apa yang telah disajikan. Ilustrasi pada cover, misalnya, disajikannya gambar buku terbuka yang masih putih yang di atasnya terdapat pensil, pulpen, dan tinta akan memberikan penjelasan kepada kita tentang empat keterampilan berbahasa, yaitu menyimak, berbicara, membaca, dan menulis.

C. Kelengkapan Penyajian
Secara keseluruhan buku teks “Bahasan dan Sastra Indonesia” ini telah menyajikan materi secara lengkap dengan sistematika yang runtut. Hal ini bisa dilihat dari:
1. Bagian Pendahuluan
a. Kata Pengantar
Pada bagian ini, penulis memberikan informasi yang berkaitan dengan panduan penyusunan buku teks, tujuan penulisan buku teks, materi yang disusun, ucapan terima kasih, harapannya kepada siswa.
b. Daftar Isi.
Adanya daftar isi pada bagian pendahuluan memberikan kemudahan peserta didik dan pengguna buku teks ini dalam mencari dan menemukan bab, sub bab serta topik/materi yang ada di dalamnya.

2. Bagian Isi
a. Pendahuluan
Pengantar pada awal buku berisi tujuan penulisan buku teks pelajaran, sistematika buku, materi buku, pedoman penyusunan buku teks, cara belajar yang harus diikuti, kritik dan saran kepada panyusun, serta hal-hal lain yang dianggap penting bagi peserta didik.
Selain itu, dalam awal setiap bab selalu dituliskan kompetensi dasar  dan indikator dari materi pokok yang disampaikan. Dengan adanya penjabaran kompetensi dasar dan indikator ini, siswa akan lebih mudah memahami apa saja yang harus dipelajari dan dikuasi oleh setiap siswa.
Dalam tiap-tiap bab pun disajikan alokasi waktu penyampaian pelajarannya. Alokasi waktu ini dapat dijadikan kompas atau pegangan guru dalam penyampaian materi pelajaran kepada siswa agar penyamapaian materi bisa berjalan dengan efektif.
b. Rujukan
Pada setiap ilustrasi dan wacana yang diambil dari sumber lain, penulis telah memberikan identitas sumber yang jelas. Contohnya, “Suatu makna yang merujuk (denote) kepada suatu referen, konsep, atau ide tertentu dari suatu referen.” (Keraf, 1985: 28) (hlm.5)

Selain itu, dalam akhir wacana atau teks yang diambil dari surat kabar, majalah atau novel pasti dituliskan  nama sumbernya, penulis, dan kapan sumber tersebut diterbitkan. Contohnya, sumber dari 7T Kiat Membentuk Pribadi Sukses, Karya Abdullah Gymnastiar, Bandung, 2002. (hlm. 69)
c. Rangkuman dan refleksi
Rangkuman merupakan konsep kunci bab yang bersangkutan yang dinyatakan dengan kalimat yang ringkas, jelas, dan memudahkan peserta didik memahami keseluruhan isi bab. Refleksi memuat simpulan sikap dan prilaku yang harus diteladani. Dalam buku ini rangkuman ini tidak ada sehingga peserta didik kurang mendapatkan tekanan materi yang harus benar-benar dikuasai. Sebagai ganti dari itu penulis menyampaikan ringkasan fokus kemampuan dasar yang harus dikuasai peserta didik. Rangkuman dan refleksi ini bisa kita temukan dalam akhir pada setiap bab.
d. Pelatihan
Pada setiap babnya, penyusun selalu memberikan tugas-tugas sebagai bahan pretest dan posttest sebagai evaluasi terkuasainya kompetensi sesuai dengan SK dan KD dan untuk mengetahui sejauh mana daya serap yang ada pada diri setiap siswa. Pelatihan ini juga dilakukan untuk lebih meningkatkan pemahaman siswa. Apabila hasil dari pelatihan ini kurang maksimal, guru dapat memberikan pelatihan lain di luar pelatihan yang ada dalam buku teks.

3. Bagian penutupan
Pada bagian akhir buku teks ini disajikan daftar pustaka atau daftar buku yang digunakan sebagai bahan rujukan/referensi dalam penulisan buku tersebut. Dalam penulisan daftar pustakanya, sudah sesuai dengan penulisan daftar pustaka yang berlaku/standar sebagaimana yang disampaikan oleh H. Amat Mukhadis yaitu diawali dengan nama pengarang (yang disusun secara alfabetis setelah dilakukan pembalikan), tahun terbitan, judul buku, tempat, dan nama penerbit.

D. Penggunaan Bahasa
Bahasa yang digunakan dalam buku teks ini sudah sesuai dengan bahasa yang baik dan benar. Baik artinya sesuai dengan konteks situasi dan kondisi dan benar artinya sesuai dengan kaidah-kaidah baku yang berlaku. Selain itu, penulisan bahasanya pun telah sesuai dengan Ejaan Yang Disempurnakan. Hal ini membuktikan bahwa buku teks ini telah layak untuk diajarkan kepada siswa karena penulisan dan penyampaiannya telah tepat.

V. METODE PENGAJARAN
Berdasarkan KBBI, metode adalah cara teratur yang digunakan untuk suatu pekerjaan agar tercapai sesuai dengan yang dikehendaki/prinsip atau praktik pengajaran. Dalam buku teks yang penulis kaji ini menjelaskan tentang metode yang bisa digunakan oleh guru dalam proses pengajaran. Metode yang bisa diterapkan antara lain:
1.      Ceramah/penjelasan melalui deskripsi maupun eksposisi, khususnya terhadap konsep-konsep dasar baik kebahasaan maupun kesastraan.
2.      Diskusi
3.      Praktik, pada materi-materi tertentu (pidato, diskusi panel, MC, dll.)
4.      Kuis
5.      Penugasan, baik individu maupun kelompok


VI. MEDIA PEMBELAJARAN
            Berdasarkan KBBI, media adalah alat (sarana). Dalam hubungannya dengan pendidikan, media adalah alat dan bahan yang digunakan dalam proses pengajaran dan pembelajaran. Dengan demikian media pembelajaran adalah alat dan bahan yang digunakan dalam proses pembelajaran yang tujuannya adalah untuk meningkatkan keefektifan proses pendidikan dan turut mempermudah dalam pencapaian tujuan pendidikan yang diharapkan. Dalam buku teks ini, media yang bisa dipergunakan adalah:
a.       Media audio dengan menggunakan media kaset/tape recorder, laboratorium bahasa. Media ini bisa diterapkan dalam mata pelajaran menyimak. Siswa diharapkan bisa menyimak dengan lebih teliti ketika diputar kaset dari tape recorder.
b.      Media visual dengan menggunakan media gambar. Dengan media gambar yang dipakai, siswa dituntut untuk bisa menganalisis hal-hal yang ada dalam gambar kemudian bisa menjelaskannya di depan kelas (Mata pelajaran berbicara)
c.       Media audio visual dengan menggunakan media in focus/OHP. Penggunaan media ini misalnya dalam pemutaran film tertentu. Dalam pemutaran film ini, siswa dituntut untuk bisa menganalisis faktor-faktor instrinsik yang ada dalam film tersebut (Mata pelajaran analisis karya sastra).

VII. EVALUASI
Evaluasi baik yang bersifat pretest maupun posttest yang ada dalam buku teks ini sangat bervariasi. Selain dengan penugasan, pelatihan dan mengerjakan tugas-tugas baik secara individu maupun kelompok. Bervariasinya evaluasi ini bisa menghindarkan siswa dari kebosanan terhadap latihan dan tugas-tugas yang monoton dan menjemukan.
Selain itu, evaluasi posttest tidak hanya dicantumkan dalam akhir setiap sub bab, namun dalam akhir setiap bab juga terdapa posttest yang pertanyaannya mencakup semua materi yang telah dipelajari. Hal ini dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui sejauh mana daya serap siswa.
Bentuk evaluasi yang ada meliputi:
1.      Menjawab pertanyaan bacaan, baik pilihan ganda maupun esai.
2.      Mengisi bagian kalimat yang rumpang.
3.      Memberi tanda S (jika setuju) dan T (jika tidak setuju)
4.      Mengerjakan tugas membaca, baik pemahaman, membaca indah maupun membaca cepat.
5.      Mengerjakan tugas individu maupun tugas kelompok.



DAFTAR PUSTAKA

            Azizah, Eny dan Yasir. 2007. Bahasa dan Sastra Indonesia. Kudus: SMANSAKU Press.
Badudu, J. S. 1975. Kamus Ungkapan Bahasa Indonesia. Bandung: Pustaka Prima.
__________. 1986. Inilah Bahasa Indonesia yang Benar II. Jakarta: PT. Gramedia.
Depdikbud. 1988. Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka.
_________ . 1995. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta:  Balai Pustaka.
Depdiknas. 2003. Kurikulum 2004 SMA. Jakarta: Balai Pustaka.
Keraf, Gorys. 1980. Komposisi. Ende Flores: Nusa Indah.
Mukhadis, Amat. (Eds). 2000. Kaidah Tata Tulis Artikel Ilmiah. Malang: Universitas Negeri Malang.
Sahara, Siti dan Mahmudah Fitriyah. 2009. Keterampilan Berbahasa Indonesia. Jakarta: FITK UIN Jakarta Press.
Tarigan, Henry Guntur. 2009. Telaah Buku Teks Bahasa Indonesia. Bandung: Angkasa.

.










Psikolinguistik


A.   Definisi Empirisme
Empirisme berasal dari bahasa Yunani yaitu empeiria yang berarti pengalaman inderawi. Oleh karena itu empirisme dinisbatkan sebagai faham yang memilih pengalaman sebagai sumber utama pengenalan, baik pengalaman lahiriah yang menyangkut dunia maupun pengalaman batiniah yang menyangkut pribadi manusia.
Sedang berdasarkan Kamus Linguistik Kridalaksana, empirisme adalah sebuah teori yang menyatakan bahwa semua konsep berasal dari pengalaman; dan bahwa semua pernyataan yang menggambarkan pengetahuan hanya dapat dipertanggungjawabkan dari pengalaman. Dalam linguistik paham ini berusaha membatasi analisis bahasa pada data di dalam korpus[1], yang diperoleh dengan penelitian lapangan.[2]
Empirisme merupakan suatu doktrin yang menekankan peranan pengalaman dalam memperoleh pengetahuan dan mengecilkan peranan akal. Sebagai suatu doktrin, empirisme adalah lawan dari rasionalisme. Empirisme berpendapat bahwa pengetahuan tentang kebenaran yang sempurna tidak diperoleh melalui akal, melainkan diperoleh atau bersumber dari pancaindra manusia, yaitu mata, lidah, telinga, kulit dan hidung. Sehingga pengenalan inderawi dapat dikatakan sebagai pengenalan yang paling jelas dan sempurna. Dengan kata lain, kebenaran adalah sesuatu yang sesuai dengan pengalaman manusia. Sebaliknya rasionalisme mengatakan bahwa pengenalan yang sejati berasal dari ratio, sehingga pengenalan inderawi merupakan suatu bentuk pengenalan yang kabur. Jadi teori ini menganggap faktor pembawaan tidak berperan sama sekali dalam proses perkembangan manusia tetapi lingkunganlah yang maha kuasa dalam menentukan perkembangan pribadi seseorang.[3]
Teori empirisme sering disebut dengan teori behaviorisme. Karena  teori empirisme yang di dalamnya lebih menitikberatkan semua konsep yang berasal dari pengalaman, begitu juga dengan teori behaviorisme merupakan sebuah pendekatan yang dilakukan hanya dengan memperhatikan sesuatu yang dapat diamati dengan sungguh-sungguh dan mengabaikan keadaan mental (rasio). (Kridalaksana, 2008: 32). Dengan kata lain, behaviorisme adalah istilah lain dari empirisme.

B.   Dasar-Dasar Teori Behaviorisme (Empirisme)
Teori behaviorisme diperkenalkan oleh John B. Watson (1878-1958) seorang ahli psikologi berkebangsaan Amerika. Teori ini merupakan kelanjutan dari teori pembiasan klasik Pavlov dalam bentuk baru dan lebih terperinci serta didukung oleh eksperimen baru dengan binatang (terutama tikus) dan anak kecil (bayi).
Di Amerika Serikat, Watson dikenal sebagai Bapak Behaviorisme karena prinsip-prinsip pembelajaran barunya berdasarkan teori Stimulus- Respons Bond (S-R Bond). Tujuan utamanya adalah membuat prediksi dan pengendalian terhadap perilaku; dan sedikit pun tidak ada kaitannya dengan kesadaran. Yang dapat dikaji menurut teori ini adalah benda-benda atau hal-hal yang dapat diamati secara langsung, yaitu rangsangan (stimulus) dan gerak balas (respons); sedang hal-hal yang terjadi dalam otak tidak berkaitan dengan kajian.
Oleh karena kesadaran tidak termasuk dalam hal yang dikaji oleh behaviorisme, maka menurut pemikiran Watson, teori ini menjadi ilmu perilaku manusia yang sangat sederhana dan mudah dikaji. Karena menurut behaviorisme, semua perilaku termasuk respons ditimbulkan oleh adanya rangsangan (stimulus). Jadi, jika respons telah diamati maka rangsangan pun dapat diprediksikan. Begitu juga jika rangsangan telah diamati, maka respons pun mudah diprediksikan. Dengan demikian, setiap perilaku itu dapat diprediksikan dan dikendalikan. Watson pun dengan tegas menolak pengaruh naluri (instinct) dan kesadaran terhadap perilaku. Jadi, semua perilaku dipelajari menurut hubungan stimulus-respons.
Dalam pembelajaran yang didasarkan pada hubungan stimulus-respons ini, Watson mengemukakan dua prinsip penting, yaitu: 1) recency principle (prinsip kebaruan) dan 2) frequency principle (prinsip frekuensi). Menurut prinsip kebenaran, jika suatu stimulus baru saja menimbulkan respons, maka kemungkinan stimulus itu menimbulkan respons yang sama apabila diberikan umpan setelah lama berselang. Menurut prinsip frekuensi, apabila suatu stimulus dibuat lebih sering menimbulkan satu respons, maka kemungkinan stimulus itu akan menimbulkan respons yang sama pada waktu yang lain dengan lebih besar.   
Watson juga menempatkan perilaku atau kegiatan berbahasa sama dengan perilaku atau kegiatan lainnya, seperti makan, berjalan, dan melompat. Pada mulanya Watson hanya menghubungkan perilaku berbahasa yang implisit, yakni yang terjadi di dalam pikiran, dengan yang eksplisit, yakni yang berupa tuturan. Namun kemudian beliau telah menyamakan perilaku berbahasa itu dengan teori stimulus-respons (S—R). Maka penyamaan ini memperlakukan kata-kata sama dengan benda-benda lain sebagai respons dari suatu stimulus.
Weiss, ahli psikologi behaviorisme Amerika mengakui adanya aspek mental dalam bahasa. Namun, karena wujudnya tidak memiliki kekuatan fisik, maka wujudnya itu sukar dikaji atau ditunjukkan. Oleh karena itu, Weiss lebih cenderung mengatakan bahwa bahasa itu sebagai satu bentuk perilaku apabila seseorang menyesuaikan dirinya dengan lingkungan sosialnya.
Weiss adalah tokoh yang telah berhasil mengubah Bloomfield dari penganut aliran mentalistik menjadi penganut aliran behaviorisme. Bloomfield adalah tokoh linguistik Amerika yang menerima dan menerapkan teori-teori perilaku (behaviorisme) dalam analisis berbahasa. Bloomfield menerapkan teori stimulus-respons dalam analisis bahasanya. Pernyataan-pernyataan Bloomfield adalah sebagai berikut:
1.    Bahasa adalah salah satu dari bentuk perilaku. Bahasa adalah salah satu fenomena yang dapat ditangkap lewat pancaindra, yaitu indra pendengaran. Dengan kata lain, bahasa adalah perilaku (peri = kata, berperi = berkata, dan laku = perbuatan). Jadi, pernyataan Bloomfiled ini sama dengan pernyataan Skinner yang menyatakan bahwa bahasa adalah verbal behavior.
2.    Dalam menganalisis bahasa pelu dibedakan:
·         Peristiwa yang mendahului peristiwa berabahasa atau stimulus pertama (S).
·         Respons yang dilakukan terhadap stimulus pertama. Salah satu respons adalah perilaku atau perbuatan berbahasa yang berwujud bunyi bahasa. Respon perilaku (r).
·         Peristiwa yang terjadi setelah ada respon perilaku (R).
3.    Di antara peristiwa a dan c terdapat peristiwa bahasa yang terdiri dari respons bahasa terhadap stimulus. Respons bahasa yang berubah menjadi stimulus (kedua); dan akhirnya respons (R) setelah stimulus kedua.
Dapat digambarkan sebagai berikut:
S_____________  r.........................s  _______________ R

Dari penjelasan di atas jelas bahwa bahasa merupakan salah satu wujud tingkah laku manusia yang dinyatakan secara verbal atau dengan kata-kata. Dengan kata lain, bahasa merupakan wujud perilaku manusia yang dapat ditangkap oleh pancaindra. Menurut kaum behavioris, semua keterampilan  manusia diperoleh dengan proses belajar, termasuk juga dalam mencapai kemampuan berbahasa.


C.   Empirisme/Behaviorisme dalam Kaitannya dengan Perkembangan Bahasa Anak
Manusia yang normal, sejak lahir telah dilengkapi dengan kemampuan belajar. Oleh karena itu, kemampuan berbahasa didapat atau dicapai melalui proses belajar. Hal ini menunjukkan bahwa bahasa itu harus dipelajari. Dengan kata lain, kemampuan berbahasa adalah satu kemampuan hasil belajar dan bukan sebagai sesuatu yang diwarisi.
Ada beberapa aspek linguistik dasar yang bersifat universal dalam otak manusia yang memungkinkan untuk menguasai bahasa tertentu. Sedangkan menurut kaum empiris/behavioris memandang bahwa kemampuan berbahasa merupakan hasil belajar individu dalam interaksinya dengan lingkungan. Penguasaan bahasa merupakan hasil dari penyatupaduan peristiwa-peristiwa linguistik yang diamati dan dialami selama masa perkembangannya. (Tarigan, 1986: 260).
Kaum behavioris menekankan bahwa proses pemerolehan bahasa pertama dikendalikan dari luar diri si anak, yaitu oleh rangsangan yang diberikan melalui lingkungan. Istilah bahasa bagi kaum behavioris dianggap kurang tepat karena istilah bahasa itu menyiratkan suatu wujud sesuatu yang dimiliki atau digunakan, dan bukan sesuatu yang dilakukan. Padahal bahasa itu merupakan salah satu perilaku, di antara perilaku-perilaku manusia lainnya.
Menurut kaum behavioris kemampuan berbicara dan memahami oleh anak diperoleh dari rangsangan dan lingkungannya. Anak dianggap sebagai penerima pasif dari tekanan lingkungannya, tidak memiliki peranan yang aktif di dalam proses perkembangan perilaku verbalnya. Proses perkembangan bahasa ditentukan oleh lamanya latihan yang diberikan oleh lingkungannya
Menurut Skinner (1969), kaidah gramatikal atau kaidah bahasa adalah perilaku verbal yang memungkinkan seseorang dapat menjawab atau reka mengatakan sesuatu. Namun, jika anak   dapat berbicara bukanlah karena penguasaan kaidah ”rule governed”, sebab anak tidak dapat  mengungkapkan kaidah bahasa melainkan dibentuk secara langsung oleh faktor di luar dirinya.
Kaum behavioris tidak mengakui pandangan bahwa anak dapat menguasai kaidah bahasa dan mempunyai kemampuan untuk mengabstarakan ciri-ciri penting dari bahasa di lingkungannya. Mereka berpendapat rangasangan (stimulus) dari lingkungan tertentu memperkuat kemampuan berbahasa anak. Perkembangan bahasa mereka pandang sebagai suatu kemajuan dari pengungkapan verbal yang berlaku secara acak sampai mencapai kemampuan yang sebenarnya untuk berkomunikasi melalui prinsip pertalian S – R (stimulus-respons) dan proses  peniruan-peniruan.
Menurut para penganut teori behaviorisme, penggunaan bahasa merupakan asosiasi yang terbentuk melalui proses persyaratan klasikal, persyaratan operant atau instrumental dan pengantara.

1.    Persyaratan Klasikal
Persyaratan Klasikal ada sangkut pautnya dengan Pavlov, seorang fisiolog Rusia pada abad 20. Dalam percobaannya tahun 1902, Pavlov membunyikan lonceng dan sesudah itu menyemprotkan bubuk daging pada mulut anjing, membuat anjing itu mengeluarkan air liur. Kemudian Pavlov menemukan anjing-anjing itu akan mengeluarkan air liur sebaik mendengar bunyi lonceng walaupun sebelum itu bubuk daging telah disodorkan. Jadi, melalui persyaratan klasikal diutarakan suatu hubungan antara mendengar bunyi lonceng dan pengeluatan air liur yang belum dikenal sebelumnya. Lonceng itu disebut perangsang bersyarat (berkondisi) sedangkan bubuk daging disebut perangsang tidak bersyarat (tidak terkondisi). Pengeluaran air liur adalah jawaban bersyarat terhadap lonceng dan merupakan jawaban tak bersyarat terhadap bubuk daging.
Ada tiga parameter yang dikenakan Pavlov melalui teori classical conditioning, yaitu reinforcemen, extincetion, and spontaneous recovery (penguatan, penghilangan, pengembalian spontan). Menurut Pavlov respon terkondisi yang paling sederhana diperoleh melalui serangkaian penguatan yaitu tindak lanjut atau penguatan yang terus berulang dari suatu stimulus terkondisi yang diikuti stimulus tak terkondisi dan respon tak terkondisi pada interval waktu tertentu. Dengan demikian, pembentukan respon terkondisi pada umumnya bersifat bertahap. Makin banyak stimulus terkondisi diberikan bersama-sama stimulus tak terkondisi, makin mantaplah respon terkondisi yang terbentuk, sampai pada suatu ketika respon terkondisi akan muncul walaupun tanpa ada stimulus tak terkondisi.
2.    Persyaratan Instrumental
Persyaratan instrumental (operant conditioning) dikembangkan oleh B.F. Skinner pada pertengahan pertama abad 20, dengan penekanan yang tidak begitu berat pada hubungan dua kesatuan tingkah laku seperti yang terjadi pada penambahan frekuensi serta intensitas suatu kesatuan tingkah laku dan yang diberi imbalan atau hadiah, maka organisme itu cenderung menghasilkan sebuah perilaku dengan frekuensi serta intensitas yang lebih besar dari pada yang sebenarnya dihasilkannya. Contoh nyata dari laboraturium binatang, yaitu seekor tikus yang lapar dalam sebuah kandang kecil yang berjeruji besi. Walaupun menekan jeruji bukanlah hal yang biasa dilakukan oleh tikus (para behavioris akan mengatakan bahwa responsi penekanan jeruji itu pada dasarnya tidak ada dalam daftar responsi tikus), namun tikus itu mungkin saja akan menekan jeruji itu secara kebetulan waktu menjelajahi kandang tersebut. Kalau pendorongan jeruji itu segera diikuti oleh makanan, dan kalau setiap pendorongan jeruji berikutnya diikut oleh makanan, maka tikus itu akan memperbesar keseringan perilaku pendorongan-jerujinya itu.
Pernyataan bahwa ganjaran atau hadiah akan memperbesar intensitas serta frekuensi sesuatu responsi disebut hukum pengaruh. Ada beberapa istilah baru yang berhubungan dengan persyaratan instrumental ini. Responsi dikatakan sebagai suatu contoh perilaku instrumental. Butir-butir makanan itu disebut penguatan positif dan dipertentangkan dengan perlengkapan persyaratan lain yang disebut penguatan negatif, suatu perangsang berbahaya yang akan dihindari oleh binatang.
            Kalau kita ingin memadamkan response penekanan jeruji sesudah latihan butir makanan, maka kita dapat menakut-nakuti tikus setiap kali ia menekan jeruji itu. Kejutan kecil ini disebut hukuman dan dipergunakan untuk memadamkan suatu responsi.
3.  Pengantara/Mediasi
Prinsip ini mengatakan bahwa dua hal/benda yang berhubungan dengan hal/benda ketiga, akan cenderung berhubungan satu sama lain. Contohnya adalah pembuatan daftar yang dipelajari manusia, yang berupa daftar pasangan jodoh. Suatu daftar pasangan jodoh adalah seperangkat pasangan kata yang biasanya tiada hubungan apa-apa, seperti “sapi --- gambar”, “buku --- jamur” dan sebagainya. Tugas subjek dalam percobaan ini adalah meresponsi unsur kedua pada setiap pasangan sebaik melihat/mendengar anggota pertama, yang bertindak sebagai perangsang. Penelitian terhadap jenis belajar ini telah memperlihatkan bahwa bila kita mempelajari daftar kedua pasangan “gambar --- dapur”, maka kita akan mempelajari pasangan “sapi --- dapur” dengan sangat cepat pada daftar ketiga. Dapat digambarkan sebagai berikut:
            ( I )   = sapi – gambar
            ( II )  = gambar – dapur
            ( III ) = sapi – dapur
            Prinsip pengantara menjelaskan bahwa hubungan antara “sapi” dan “dapur” terletak diantara “gambar” walaupun “gambar” tidak ada pada daftar ketiga itu. Rangkaian hubungan yang nyata adalah “sap-gambar-dapur”, tetapi responsi “gambar” merupakan mata rantai dalam/mata rantai penghubung yang disusun serta ditetapkan melalui (proses) belajar terdahulu.  Dalam contoh di atas, yang berfungsi sebagai perantara adalah gambar.
            Asumsi behavioris  bahwa pengetahuan linguistik terdiri atas rangkaian-rangkaian asosiasi yang dapat memberikan penjelasan mengenai belajar bahasa. Asosiasi-asosiasi itu adalah persyaratan klasikal, persyaratan instrumental, dan pengantara. Dari ketiga asosiasi tersubut, maka dua yang terakhir (persyaratan instrumental dan pengantara) yang telah dikembangkan sebagai teori-teori belajar bahasa.
           Teori belajar bahasa yang paling erat berhubungan dengan persyaratan instrumental menyatakan bahwa perilaku berbahasa seorang individu ditentukan oleh urutan ganjaran-ganjaran yang berbeda dalam lingkungannya. Perhitungan teoretis ini menuntut bahwa bayi meraban menghasilkan semua bunyi bahasa-bahasa dunia. Akan tetapi para orang tua bayi hanyalah memberi penghargaan pada bunyi-bunyi yang terdapat pada bahasa pribumi rumah tangga saja dan sang bayi menjadi hanya terbiasa menghasilkan bunyi ujaran-ujaran yang diberi penghargaan saja. Bunyi-bunyi digabungkan menjadi kata-kata, beberapa secara tidak sengaja oleh anak-anak, sebagian lagi dengan jalan meniru ucapan-uacapan orang dewasa. Sedang kata-kata yang salah satu atau tidak tepat sudah tentu tidak mendapatkan penghargaan.
          




[1] Korpus adalah kumpulan ajaran tertulis atau lisan yang dipergunakan untuk menyokong atau menguji hepotesis tentang struktur bahasa. (Harimurti Kridalaksana, Kamus Linguistik, Jakarta: PT Gramedia,). hlm.137.
[2] Harimurti Kridalaksana, Kamus Linguisti,( Jakarta:  PT Gramedia),  hlm. 57
[3] Drs. H. M. Alisuf Sabri, psikologi pendidikan, ( Jakarta: Pedoman Ilmu Jaya), hlm 36.