TELAAH BUKU TEKS
I. IDENTITAS BUKU TEKS
1. Judul Buku : Bahasa dan Sastra Indonesia
2. Pengarang : Eny Azizah
Yasir
Noor Rina
3. Cetakan : -
4. Tahun Terbit : 2007
5. Penerbit : SMANSAKU Press
6. Kota Terbit : Kudus
7. Ditujukan kepada : Siswa SMA/MA Kelas XII program Ilmu Alam dan
Ilmu Sosial
II. SUDUT PANDANG PENDEKATAN
Bahasa Indonesia merupakan sarana komunikasi dan sastra merupakan salah satu hasil budaya yang menggunakan bahasa sebagai sarana kreativitasnya. Bahasa dan sastra Indonesia seharusnya diajarkan kepada siswa melalui pendekatan yang sesuai dengan hakikat dan fungsinya.
Dalam kehidupan sehari-hari, fungsi utama bahasa adalah sarana komunikasi. Bahasa dipergunakan sebagai alat untuk berkomunikasi antarpenutur untuk berbagai keperluan dan situasi pemakaian. Untuk itu, orang tidak akan berpikir tentang sistem bahasa, tetapi berpikir bagaimana menggunakan bahasa ini secara tepat sesuai dengan konteks dan situasi. Jadi, secara pragmatis bahasa lebih merupakan suatu bentuk kinerja dan performansi daripada sebuah sistem ilmu. Pandangan ini membawa konsekuensi bahwa pembelajaran bahasa haruslah lebih menekankan fungsi bahasa sebagai alat komunikasi daripada pembelajaran tentang sistem bahasa.
Sementara itu, sastra adalah satu bentuk sistem tanda karya seni yang menggunakan media bahasa. Sastra ada untuk dibaca, dinikmati, dan dipahami, serta dimanfaatkan, yang antara lain untuk mengembangkan wawasan kehidupan. Jadi, pembelajaran sastra seharusnya ditekankan pada kenyataan bahwa sastra merupakan salah satu bentuk seni yang dapat diapresiasi. Oleh karena itu, pembelajaran sastra haruslah bersifat apresiatif. Sebagai konsekuensinya, pengembangan materi, teknik, tujuan, dan arah pembelajaran sastra haruslah lebih menekankan kegiatan pembelajaran yang bersifat apresiatif.
Pendekatan pembelajaran bahasa yang menekankan aspek keterampilan berbahasa dan fungsi bahasa adalah pendekatan komunikatif, sedangkan pendekatan pembelajaran sastra yang menekankan apresiasi sastra adalah pendekatan apresiatif. Pendekatan lain yang biasa digunakan dalam setiap pembelajaran adalah pendekatan proses dimana siswa secara aktif dan kreatif dengan bimbingan guru berusaha menemukan pola-pola berbahasa dengan cara mencatat pola-pola bermakna yang dijumpai dalam setiap kegiatan berbahasa di kelasnya untuk kemudian menggunakannya dalam kegiatan komunikasi sehari-hari, baik komunikasi lisan maupun komunikasi tulis.
Ketiga pendekatan tersebut di atas adalah yang dipakai oleh ketiga penyusun buku teks Bahasa dan Sastra Indonesia. Hal ini telihat dari kata pengantar yang disampaikan penyusun.
”Tujuan akhir pengajaran Bahasa Indonesia adalah agar siswa mampu menggunakan bahasa Indonesia secara baik dan benar, baik secara lisan maupun tulisan…..”
Dari pendahuluan yang ditulis oleh tim penyusun buku, memperlihatkan bahwa penyusunan buku Bahasa dan Sastra Indonesia ini bertujuan untuk mencapai tiga pendekatan yang telah dipaparkan di atas, yang mencakup materi bahasa dan sastra. Materi dalam buku Bahasa dan Sastra Indonesai yang penulis kaji ini mencakup materi pelajaran dan tugas-tugas yang harus dikerjakan siswa serta evaluasi untuk mengetahui daya serap siswa setiap akhir pelajaran.
III. TUJUAN
Seperti yang telah dijelaskan dalam sub bab sudut pandang pendekatan di atas, tujuan penulisan buku teks ini telah dijelaskan oleh penyusun buku teks yang dituliskan dalam kata pengantarnya. Pada intinya, penyusunan buku teks ini adalah agar siswa mampu menggunakan bahasa Indonesia secara baik dan benar, baik secara lisan maupun tulisan. Di samping itu, pengajaran bahasa Indonesia di dalam kelas diharapkan mampu menyerap dan memberikan tanggapan terhadap informasi lisan dan tulisan dalam berbagai keperluan, sehingga siswa dapat menggunakan bahasa secara baik dan benar dalam mengungkapkan pikiran dan penalarannya.
IV. BAHAN
A. Kelayakan Materi
1. Kesesuaian Materi Buku Teks dengan Kurikulum
Kurikulum adalah suatu program pendidikan yang berisikan berbagai bahan ajar dan pengalaman belajar yang diprogramkan secara sistemik atas dasar norma-norma yang berlaku yang dijadikan pedoman dalam proses pembelajaran bagi tenaga kependidikan dan peserta didik untuk mencapai tujuan pendidikan. Kurikulum juga merupakan suatu usaha untuk menyampaikan asas-asas dan ciri-ciri yang penting dari suatu rencana pendidikan dalam bentuk yang sedemikian rupa sehingga dapat dilaksanakan oleh guru di sekolah.
Pada kurikulum Bahasa Indonesia 2004 kemampuan berbahasa dibedakan menjadi dua, yaitu kemampuan terhadap materi kebahasaan dan kemampuan materi kesastraan sehingga dituntut dalam setiap keterampilan berbahasa (mendengar, berbicara, membaca dan menulis) kedua kemampuan berbahasa tersebut harus mendapat perhatian. Materi yang ada dalam buku teks Bahasa dan Sastra Indonesia yang kami telaah ini telah mencerminkan hal tersebut. Kelengkapan materi dalam buku teks ini bisa dilihat dari adanya wacana, pemahaman terhadap wacana, fakta kebahasaan dan kesastraan dan juga adanya penerapan konsep dasar baik dari materi kebahasaan maupun kesastraan melalui pelatihan, tugas serta kegiatan mandiri sehingga peserta didik mampu menggali dan memanfaatkan informasi serta menyelesaikan masalah yang ada.
2. Keakuratan Materi
Materi yang disajikan dalam buku teks ini telah disesuaikan dengan tingkat pemahaman siswa kelas XII SMA/MA. Hal ini terlihat dari berbagai macam wacana yang disajikan telah sesuai dengan kebutuhan dan kondisi siswa.
Keakuratan konsep dan teori terlihat sesuai dengan memperhatikan kesesuaian antara teori dan konsep yang disajikan untuk mencapai Kompetensi Dasar (KD) dengan menggunakan berbagai pengertian dari bidang ilmu bahasa (linguistik) dan ilmu sastra. Selain itu, keakuratan teori dan konsep itu terlihat juga dalam penggunaannya yang tepat sesuai dengan fenomena yang dibahas dan tidak menimbulkan tafsir ganda (ambigu).
3. Keakuratan dalam memilih contoh
Dalam contoh-contoh latihan yang disajikan dalam buku teks yang dikaji, menunjukkan keruntutan konsep dari yang mudah ke yang sukar, dari yang konkret ke abstrak, dari yang sederhana ke yang kompleks dari yang telah dikenal sampai ke pengembangannya.
Penulis mengambil materi pada mata pelajaran pertama untuk dijadikan contoh. Tema pada pelajaran pertama adalah “Menyampaikan Program Kegiatan”. Sebelum siswa diajak masuk ke dalam materi penyampaian program kegiatan, terlebih dulu siswa harus menyampaikan program atau kegiatan apa yang siswa ikuti di sekolah. Kegiatan ekstrakurikuler apa yang pernah didikuti siswa dan bagaimana keterlibatan siswa dalam kegiatan tersebut. Setelah siswa mengungkapkan semua kegiatan yang pernah diikutinya, kemudian siswa diajak untuk menganalisis kegiatan apa saja yang pernah dilakukan dalam organisasi/kegiatan yang pernah diikutinya tersebut. Apakah siswa pernah menyusun proposal kegiatan yang pernah diikutinya? Setelah itu, siswa diajak untuk mengetahui cara penulisan proposal kegiatan yang baik dan benar. Dan setelah siswa diajarkan bagaimana cara penulisan proposal yang baik dan benar, diharapkan siswa mampu untuk menyusun proposal dengan baik dan benar pula.
B. Pendukung Materi Pembelajaran
1. Relevansi ilustrasi dengan tema atau subtema.
Dengan menggunakan media gambar, dapat membantu siswa untuk lebih mempermudah menyerap materi yang ada dalam buku. Selain itu, dengan penggunaan media gambar materi yang disampaikan akan lebih tahan lama dalam memori siswa daripada hanya dengan menggunakan kata-kata saja.
Selain itu, media gambar pun bisa membuat tampilan buku ini lebih menarik minat siswa untuk mempelajari materi di dalamnya, dan dalam sebagian besar bab dan subbab buku ini menampilkan ilustrasi, baik yang berupa gambar, grafik maupun tabel.
Dan sejauh pengamatan penulis, kesesuaian penggunaan ilustrasi dalam buku yang penulis kaji telah dilakukan dengan cukup baik. Hal ini terlihat dengan tidak adanya penggunaan ilustrasi yang tidak sinkron dengan materi yang disampaikan.
2. Relevansi materi dan bahan dengan tingkat usia siswa
Dalam tahap perkembangannya, siswa SMA berada pada tahap periode perkembangan yang sangat pesat dalam setiap aspeknya. Salah satu aspek tersebut adalah aspek kognitif.
Menurut Piaget (1970), tahap yang terjadi pada siswa SMA adalah tahap operasional formal. Pada tahap ini, yang berkembang pada siswa adalah kemampuan berpikir secara simbolis dan bisa memahami sesuatu secara bermakna tanpa memerlukan objek yang konkret, bahkan objek yang visual. Siswa telah memahami hal-hal yang bersifat imajinatif. Dengan kata lain, dalam tahap ini siswa telah mampu untuk berfikir mengenai benda-benda yang abstrak dan telah mampu untuk menentukan hioptesis.
Implikasinya terhadap pembelajaran bahasa Indonesia adalah belajar akan bermakna apabila input (materi pelajaran) yang disampaikan sesuai dengan minat dan bakat siswa. Pembelajaran bahasa Indonesia akan berhasil apabila penyusun silabus dan guru mampu menyesuaikan tingkat kesulitan dan variasi input dengan harapan serta karakteristik siswa sehingga motivasi belajar mereka berada pada tingkat maksimal.
Pada tahap perkembangan ini juga berkembang ketujuh kecerdasan dalam Multiple Intelligences yang dikemukakan oleh Gardner (1993), yaitu: (1) kecerdasan linguistik (kemampuan berbahasa yang fungsional), (2) kecerdasan logis-matematis (kemampuan berpikir runtut), (3) kecerdasan musikal (kemampuan menangkap dan menciptakan pola nada dan irama), (4) kecerdasan spasial (kemampuan membentuk imaji mental tentang realitas), (5) kecerdasan kinestetik-ragawi (kemampuan menghasilkan gerakan motorik yang halus), (6) kecerdasan intra-pribadi (kemampuan untuk mengenal diri sendiri dan mengembangkan jati diri), (7) kecerdasan antarpribadi (kemampuan memahami orang lain). Ketujuh macam kecerdasan ini sesuai dengan karakteristik keilmuan bahasa Indonesia, dan akan dapat berkembang pesat apabila dapat dimanfaatkan oleh guru bahasa Indonesia untuk berlatih mengeksplorasi gejala alam, baik gejala kebendaan maupun gejala kejadian/peristiwa guna membangun konsep bahasa Indonesia.
Dengan melihat kedua teori di atas, terlihat bahwa materi yang ada pada buku teks ini telah menerapkan teori tersebut di atas dalam penyusunannya. Ilustrasi-ilustrasi yang disajikan menimbulkan imajinasi pada diri pemakai buku ini (siswa). Siswa akan lebih mudah menganalisis informasi atau materi apa yang telah disajikan. Ilustrasi pada cover, misalnya, disajikannya gambar buku terbuka yang masih putih yang di atasnya terdapat pensil, pulpen, dan tinta akan memberikan penjelasan kepada kita tentang empat keterampilan berbahasa, yaitu menyimak, berbicara, membaca, dan menulis.
C. Kelengkapan Penyajian
Secara keseluruhan buku teks “Bahasan dan Sastra Indonesia” ini telah menyajikan materi secara lengkap dengan sistematika yang runtut. Hal ini bisa dilihat dari:
1. Bagian Pendahuluan
a. Kata Pengantar
Pada bagian ini, penulis memberikan informasi yang berkaitan dengan panduan penyusunan buku teks, tujuan penulisan buku teks, materi yang disusun, ucapan terima kasih, harapannya kepada siswa.
b. Daftar Isi.
Adanya daftar isi pada bagian pendahuluan memberikan kemudahan peserta didik dan pengguna buku teks ini dalam mencari dan menemukan bab, sub bab serta topik/materi yang ada di dalamnya.
2. Bagian Isi
a. Pendahuluan
Pengantar pada awal buku berisi tujuan penulisan buku teks pelajaran, sistematika buku, materi buku, pedoman penyusunan buku teks, cara belajar yang harus diikuti, kritik dan saran kepada panyusun, serta hal-hal lain yang dianggap penting bagi peserta didik.
Selain itu, dalam awal setiap bab selalu dituliskan kompetensi dasar dan indikator dari materi pokok yang disampaikan. Dengan adanya penjabaran kompetensi dasar dan indikator ini, siswa akan lebih mudah memahami apa saja yang harus dipelajari dan dikuasi oleh setiap siswa.
Dalam tiap-tiap bab pun disajikan alokasi waktu penyampaian pelajarannya. Alokasi waktu ini dapat dijadikan kompas atau pegangan guru dalam penyampaian materi pelajaran kepada siswa agar penyamapaian materi bisa berjalan dengan efektif.
b. Rujukan
Pada setiap ilustrasi dan wacana yang diambil dari sumber lain, penulis telah memberikan identitas sumber yang jelas. Contohnya, “Suatu makna yang merujuk (denote) kepada suatu referen, konsep, atau ide tertentu dari suatu referen.” (Keraf, 1985: 28) (hlm.5)
Selain itu, dalam akhir wacana atau teks yang diambil dari surat kabar, majalah atau novel pasti dituliskan nama sumbernya, penulis, dan kapan sumber tersebut diterbitkan. Contohnya, sumber dari 7T Kiat Membentuk Pribadi Sukses, Karya Abdullah Gymnastiar, Bandung, 2002. (hlm. 69)
c. Rangkuman dan refleksi
Rangkuman merupakan konsep kunci bab yang bersangkutan yang dinyatakan dengan kalimat yang ringkas, jelas, dan memudahkan peserta didik memahami keseluruhan isi bab. Refleksi memuat simpulan sikap dan prilaku yang harus diteladani. Dalam buku ini rangkuman ini tidak ada sehingga peserta didik kurang mendapatkan tekanan materi yang harus benar-benar dikuasai. Sebagai ganti dari itu penulis menyampaikan ringkasan fokus kemampuan dasar yang harus dikuasai peserta didik. Rangkuman dan refleksi ini bisa kita temukan dalam akhir pada setiap bab.
d. Pelatihan
Pada setiap babnya, penyusun selalu memberikan tugas-tugas sebagai bahan pretest dan posttest sebagai evaluasi terkuasainya kompetensi sesuai dengan SK dan KD dan untuk mengetahui sejauh mana daya serap yang ada pada diri setiap siswa. Pelatihan ini juga dilakukan untuk lebih meningkatkan pemahaman siswa. Apabila hasil dari pelatihan ini kurang maksimal, guru dapat memberikan pelatihan lain di luar pelatihan yang ada dalam buku teks.
3. Bagian penutupan
Pada bagian akhir buku teks ini disajikan daftar pustaka atau daftar buku yang digunakan sebagai bahan rujukan/referensi dalam penulisan buku tersebut. Dalam penulisan daftar pustakanya, sudah sesuai dengan penulisan daftar pustaka yang berlaku/standar sebagaimana yang disampaikan oleh H. Amat Mukhadis yaitu diawali dengan nama pengarang (yang disusun secara alfabetis setelah dilakukan pembalikan), tahun terbitan, judul buku, tempat, dan nama penerbit.
D. Penggunaan Bahasa
Bahasa yang digunakan dalam buku teks ini sudah sesuai dengan bahasa yang baik dan benar. Baik artinya sesuai dengan konteks situasi dan kondisi dan benar artinya sesuai dengan kaidah-kaidah baku yang berlaku. Selain itu, penulisan bahasanya pun telah sesuai dengan Ejaan Yang Disempurnakan. Hal ini membuktikan bahwa buku teks ini telah layak untuk diajarkan kepada siswa karena penulisan dan penyampaiannya telah tepat.
V. METODE PENGAJARAN
Berdasarkan KBBI, metode adalah cara teratur yang digunakan untuk suatu pekerjaan agar tercapai sesuai dengan yang dikehendaki/prinsip atau praktik pengajaran. Dalam buku teks yang penulis kaji ini menjelaskan tentang metode yang bisa digunakan oleh guru dalam proses pengajaran. Metode yang bisa diterapkan antara lain:
1. Ceramah/penjelasan melalui deskripsi maupun eksposisi, khususnya terhadap konsep-konsep dasar baik kebahasaan maupun kesastraan.
2. Diskusi
3. Praktik, pada materi-materi tertentu (pidato, diskusi panel, MC, dll.)
4. Kuis
5. Penugasan, baik individu maupun kelompok
VI. MEDIA PEMBELAJARAN
Berdasarkan KBBI, media adalah alat (sarana). Dalam hubungannya dengan pendidikan, media adalah alat dan bahan yang digunakan dalam proses pengajaran dan pembelajaran. Dengan demikian media pembelajaran adalah alat dan bahan yang digunakan dalam proses pembelajaran yang tujuannya adalah untuk meningkatkan keefektifan proses pendidikan dan turut mempermudah dalam pencapaian tujuan pendidikan yang diharapkan. Dalam buku teks ini, media yang bisa dipergunakan adalah:
a. Media audio dengan menggunakan media kaset/tape recorder, laboratorium bahasa. Media ini bisa diterapkan dalam mata pelajaran menyimak. Siswa diharapkan bisa menyimak dengan lebih teliti ketika diputar kaset dari tape recorder.
b. Media visual dengan menggunakan media gambar. Dengan media gambar yang dipakai, siswa dituntut untuk bisa menganalisis hal-hal yang ada dalam gambar kemudian bisa menjelaskannya di depan kelas (Mata pelajaran berbicara)
c. Media audio visual dengan menggunakan media in focus/OHP. Penggunaan media ini misalnya dalam pemutaran film tertentu. Dalam pemutaran film ini, siswa dituntut untuk bisa menganalisis faktor-faktor instrinsik yang ada dalam film tersebut (Mata pelajaran analisis karya sastra).
VII. EVALUASI
Evaluasi baik yang bersifat pretest maupun posttest yang ada dalam buku teks ini sangat bervariasi. Selain dengan penugasan, pelatihan dan mengerjakan tugas-tugas baik secara individu maupun kelompok. Bervariasinya evaluasi ini bisa menghindarkan siswa dari kebosanan terhadap latihan dan tugas-tugas yang monoton dan menjemukan.
Selain itu, evaluasi posttest tidak hanya dicantumkan dalam akhir setiap sub bab, namun dalam akhir setiap bab juga terdapa posttest yang pertanyaannya mencakup semua materi yang telah dipelajari. Hal ini dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui sejauh mana daya serap siswa.
Bentuk evaluasi yang ada meliputi:
1. Menjawab pertanyaan bacaan, baik pilihan ganda maupun esai.
2. Mengisi bagian kalimat yang rumpang.
3. Memberi tanda S (jika setuju) dan T (jika tidak setuju)
4. Mengerjakan tugas membaca, baik pemahaman, membaca indah maupun membaca cepat.
5. Mengerjakan tugas individu maupun tugas kelompok.
DAFTAR PUSTAKA
Azizah, Eny dan Yasir. 2007. Bahasa dan Sastra Indonesia. Kudus: SMANSAKU Press.
Badudu, J. S. 1975. Kamus Ungkapan Bahasa Indonesia. Bandung: Pustaka Prima.
__________. 1986. Inilah Bahasa Indonesia yang Benar II. Jakarta: PT. Gramedia.
Depdikbud. 1988. Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka.
_________ . 1995. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka.
Depdiknas. 2003. Kurikulum 2004 SMA. Jakarta: Balai Pustaka.
Keraf, Gorys. 1980. Komposisi. Ende Flores: Nusa Indah.
Mukhadis, Amat. (Eds). 2000. Kaidah Tata Tulis Artikel Ilmiah. Malang: Universitas Negeri Malang.
Sahara, Siti dan Mahmudah Fitriyah. 2009. Keterampilan Berbahasa Indonesia. Jakarta: FITK UIN Jakarta Press.
Tarigan, Henry Guntur. 2009. Telaah Buku Teks Bahasa Indonesia. Bandung: Angkasa.
.