Selasa, 26 April 2011

SEMANGAT PERJUANGAN PEREMPUAN DALAM ROMAN KEHILANGAN MESTIKA KARYA HAMIDAHSEMANGAT PERJUANGAN PEREMPUAN DALAM ROMAN KEHILANGAN MESTIKA KARYA HAMIDAH


Hasil sastra pengarang perempuan tidak banyak jumlahnya. Karena memang penulisnya tidak banyak dan kurang produktif. Salah satu di antara  perempuan yang pernah menghasilkan karya yang cukup dikenal adalah Hamidah, dengan judul bukunya Kehilangan Mestika. Buku ini (yang akhirnya disebut dengan Roman ) menceritakan tentang perjalanan seorang Hamidah sendiri  dengan ditambahkan cerita fiksi di dalamnya. Oleh karena itu, roman ini disebut dengan roman semi autobiografi. Hal menarik dalam roman ini adalah mengenai semangat juang dari tokoh utamanya, yaitu Hamidah untuk membela perempuan.
Berbeda dengan Kartini, Hamidah mencoba bangkit dari pingitan dan nasib sebagai perempuan yang tidak berhak atas pendidikan dengan menempuh pendidikan perempuan di luar negerinya, meskipun mendapat ejekan dari tetangga-tetangganya.  Namun karena ia mendapatkan dukungan dari ayahnya dan juga karena kemauannya yang begitu keras, akhirnya Hamidah pun berangkat menempuh pendidikan.  Setelah dia lulus, dia mencoba membuka jalan bagi perempuan di negerinya, Muntok dengan membuka sekolah bagi perempuan di sana. Namun perjuangan ini tidak lama karena ia segera dipindahtugaskan ke Palembang. Kepindahannya ke Palembang inilah yang menjadi awal dari perkenalannya dengan cinta. Karena sewaktu di Palembang ini, ia sudah mulai merasakan cinta, yaitu cinta kepada Ridhan, teman sekolahnya dulu. Namun cinta ini kandas mana kala ia mengetahui  bahwa Ridhan telah meninggal dunia. Meninggalnya Ridhan ini mengawali keputusasaan Hamidah dalam menjalani hidup dan perjuangannya. Dia merasa terpuruk karena lelaki yang selama ini mendukung dan membantunya telah tiada. Namun keputusasaan itu tak berlangsung lama. Setelah ia kembali ke Muntok, ia mencoba bangkit kembali dan meneruskan perjuangannya yang telah tertunda.
Dengan dibantu oleh Anwar dan Idrus, ia kembali melanjutkan perjuangan dengan melanjutkan sekolah perempuan yang dulu pernah dibukanya. Rencana mereka berjalan dengan mulus apalagi ditambah dengan semakin banyaknya perempuan yang hendak menempuh pendidikan. Dari sini pula mulai tumbuh perasaan cinta antara Idrus dengan Hamidah. Namun tak lama dari itu, ayah Hamidah meninggal dunia. Semenjak kematian ayahnya yang merupakan semangat terbesar dalam hidupnya nasib Hamidah menjadi berubah karena ia harus ikut saudaranya ke Jakarta. Dengan kepergiannya ke Jakarta ini, semua yang menjadi keinginan dan cita-citanya dalam meningkatkan perjuangannya di negerinya, termasuk menikah dengan Idrus harus pupus di tengah jalan. Karena saudaranya tidak menyetujui hubungannya dengan Idrus, maka dinikahkanlah ia dengan Rusli, misan saudaranya. Dengan susah payah, akhirnya Hamidah berhasil memindahkan cintanya kepada Rusli. Namun karena ia tidak mempunyai anak, ia merasa tidak ada gunanya lagi diikat dengan pernikahan apalagi Rusli telah bahagia dengan istri muda dan anaknya. Untuk itu ia minta cerai dari Rusli. Setelah bercerai dengan Rusli, ia kembali ke Muntok dengan perasaan yang remuk. Keremukan itu bertambah setelah ia mengetahui bahwa Idrus yang memilih untuk tidak menikah setelah putus dari Hamidah, ternyata baru saja meninggal.
Semangat juang Hamidah yang menggelora tak dapat ia realisasikan tanpa dukungan dan bantuan orang-orang terdekatnya. Ayahnya, yang merupakan semangat terbesar dalam hidupnya hadir untuk mendukung dan membantu perjuangan Hamidah. Oleh karena itu, ia merasakan kehilangan sebelah tangan setelah kepergian ayahnya itu. Dua orang kekasih yang dicintai Hamidah, yaitu Ridhan dan Idrus juga merupakan salah satu semangat dalam diri Hamidah. Ketika Ridhan meninggal, Hamidah merasakan keputusasaan yang mendalam sampai akhirnya ia bertemu dengan Idrus yang bisa menggantikan posisi Ridhan dalam mendukung perjuangannya. Ketika ia dipaksa menikah dengan Rusli, terlihat kembali keputusasaan dalam diri Hamidah karena pendukung satu-satunya dalam hidup telah jauh.  Keputusasaan itu terlihat dari sulitnya posisi Idrus digantikan dengan Rusli, meskipun pada akhirnya Hamidah telah berhasil memindahkan cintanya itu kepada Rusli. Namun dalam proses pemindahan cinta itu, diperlukan proses yang panjang sampai akhirnya luluhlah hati Hamidah.
Dengan demikian dapat dikatakan bahwa meskipun banyak upaya dan pengorbanan yang telah dilakukan oleh Hamidah untuk mewujudkan keinginannya, namun tetap saja banyak sekali hambatan dan rintangan yang dialami oleh Hamidah dalam upaya membuka jalan baru bagi kaum perempuan di negerinya itu. Semangat juang Hamidah ini tak mungkin bisa berjalan dengan mulus tanpa dukungan orang-orang di sekitarnya. Ayahnya, Ridhan, Idrus, merupakan semangat hidup Hamidah dalam mewujudkan cita-citanya itu. Tanpa mereka Hamidah hanya perempuan kecil yang tak berdaya. Kehadiran mereka menjadikan Hamidah sebagai seorang perempuan yang besar dan kuat dalam menjalani segala hal yang menimpanya. Selain itu, Hamidah juga merupakan simbol dari perempuan-perempuan  beruntung karena ia telah merasakan pendidikan yang tak pernah dirasakan oleh perempuan lain. Selain itu, ia juga mampu melepaskan  pingitan pendidikan yang dialami oleh perempuan-perempuan di negerinya di masa itu. Tak selamanya keberuntungan selalu berpihak kapada yang baik. Meskipun Hamidah banyak berjasa bagi perempuan di negerinya, namun pada akhirnya kebahagiaan tak menghampirinya. Semangat hidupnya telah pupus karena ia harus hidup sendirian, terpisah dari orang yang dikasihi dan mengasihinya. Namun memang seperti itulah permaianan hidup. Hanya yang mampu bertahan  (survive) yang akan menjadi pemenangnya. 


Tidak ada komentar:

Posting Komentar