A. Definisi Empirisme
Empirisme berasal dari bahasa Yunani yaitu empeiria yang berarti pengalaman inderawi. Oleh karena itu empirisme dinisbatkan sebagai faham yang memilih pengalaman sebagai sumber utama pengenalan, baik pengalaman lahiriah yang menyangkut dunia maupun pengalaman batiniah yang menyangkut pribadi manusia.
Sedang berdasarkan Kamus Linguistik Kridalaksana, empirisme adalah sebuah teori yang menyatakan bahwa semua konsep berasal dari pengalaman; dan bahwa semua pernyataan yang menggambarkan pengetahuan hanya dapat dipertanggungjawabkan dari pengalaman. Dalam linguistik paham ini berusaha membatasi analisis bahasa pada data di dalam korpus[1], yang diperoleh dengan penelitian lapangan.[2]
Empirisme merupakan suatu doktrin yang menekankan peranan pengalaman dalam memperoleh pengetahuan dan mengecilkan peranan akal. Sebagai suatu doktrin, empirisme adalah lawan dari rasionalisme. Empirisme berpendapat bahwa pengetahuan tentang kebenaran yang sempurna tidak diperoleh melalui akal, melainkan diperoleh atau bersumber dari pancaindra manusia, yaitu mata, lidah, telinga, kulit dan hidung. Sehingga pengenalan inderawi dapat dikatakan sebagai pengenalan yang paling jelas dan sempurna. Dengan kata lain, kebenaran adalah sesuatu yang sesuai dengan pengalaman manusia. Sebaliknya rasionalisme mengatakan bahwa pengenalan yang sejati berasal dari ratio, sehingga pengenalan inderawi merupakan suatu bentuk pengenalan yang kabur. Jadi teori ini menganggap faktor pembawaan tidak berperan sama sekali dalam proses perkembangan manusia tetapi lingkunganlah yang maha kuasa dalam menentukan perkembangan pribadi seseorang.[3]
Teori empirisme sering disebut dengan teori behaviorisme. Karena teori empirisme yang di dalamnya lebih menitikberatkan semua konsep yang berasal dari pengalaman, begitu juga dengan teori behaviorisme merupakan sebuah pendekatan yang dilakukan hanya dengan memperhatikan sesuatu yang dapat diamati dengan sungguh-sungguh dan mengabaikan keadaan mental (rasio). (Kridalaksana, 2008: 32). Dengan kata lain, behaviorisme adalah istilah lain dari empirisme.
B. Dasar-Dasar Teori Behaviorisme (Empirisme)
Teori behaviorisme diperkenalkan oleh John B. Watson (1878-1958) seorang ahli psikologi berkebangsaan Amerika. Teori ini merupakan kelanjutan dari teori pembiasan klasik Pavlov dalam bentuk baru dan lebih terperinci serta didukung oleh eksperimen baru dengan binatang (terutama tikus) dan anak kecil (bayi).
Di Amerika Serikat, Watson dikenal sebagai Bapak Behaviorisme karena prinsip-prinsip pembelajaran barunya berdasarkan teori Stimulus- Respons Bond (S-R Bond). Tujuan utamanya adalah membuat prediksi dan pengendalian terhadap perilaku; dan sedikit pun tidak ada kaitannya dengan kesadaran. Yang dapat dikaji menurut teori ini adalah benda-benda atau hal-hal yang dapat diamati secara langsung, yaitu rangsangan (stimulus) dan gerak balas (respons); sedang hal-hal yang terjadi dalam otak tidak berkaitan dengan kajian.
Oleh karena kesadaran tidak termasuk dalam hal yang dikaji oleh behaviorisme, maka menurut pemikiran Watson, teori ini menjadi ilmu perilaku manusia yang sangat sederhana dan mudah dikaji. Karena menurut behaviorisme, semua perilaku termasuk respons ditimbulkan oleh adanya rangsangan (stimulus). Jadi, jika respons telah diamati maka rangsangan pun dapat diprediksikan. Begitu juga jika rangsangan telah diamati, maka respons pun mudah diprediksikan. Dengan demikian, setiap perilaku itu dapat diprediksikan dan dikendalikan. Watson pun dengan tegas menolak pengaruh naluri (instinct) dan kesadaran terhadap perilaku. Jadi, semua perilaku dipelajari menurut hubungan stimulus-respons.
Dalam pembelajaran yang didasarkan pada hubungan stimulus-respons ini, Watson mengemukakan dua prinsip penting, yaitu: 1) recency principle (prinsip kebaruan) dan 2) frequency principle (prinsip frekuensi). Menurut prinsip kebenaran, jika suatu stimulus baru saja menimbulkan respons, maka kemungkinan stimulus itu menimbulkan respons yang sama apabila diberikan umpan setelah lama berselang. Menurut prinsip frekuensi, apabila suatu stimulus dibuat lebih sering menimbulkan satu respons, maka kemungkinan stimulus itu akan menimbulkan respons yang sama pada waktu yang lain dengan lebih besar.
Watson juga menempatkan perilaku atau kegiatan berbahasa sama dengan perilaku atau kegiatan lainnya, seperti makan, berjalan, dan melompat. Pada mulanya Watson hanya menghubungkan perilaku berbahasa yang implisit, yakni yang terjadi di dalam pikiran, dengan yang eksplisit, yakni yang berupa tuturan. Namun kemudian beliau telah menyamakan perilaku berbahasa itu dengan teori stimulus-respons (S—R). Maka penyamaan ini memperlakukan kata-kata sama dengan benda-benda lain sebagai respons dari suatu stimulus.
Weiss, ahli psikologi behaviorisme Amerika mengakui adanya aspek mental dalam bahasa. Namun, karena wujudnya tidak memiliki kekuatan fisik, maka wujudnya itu sukar dikaji atau ditunjukkan. Oleh karena itu, Weiss lebih cenderung mengatakan bahwa bahasa itu sebagai satu bentuk perilaku apabila seseorang menyesuaikan dirinya dengan lingkungan sosialnya.
Weiss adalah tokoh yang telah berhasil mengubah Bloomfield dari penganut aliran mentalistik menjadi penganut aliran behaviorisme. Bloomfield adalah tokoh linguistik Amerika yang menerima dan menerapkan teori-teori perilaku (behaviorisme) dalam analisis berbahasa. Bloomfield menerapkan teori stimulus-respons dalam analisis bahasanya. Pernyataan-pernyataan Bloomfield adalah sebagai berikut:
1. Bahasa adalah salah satu dari bentuk perilaku. Bahasa adalah salah satu fenomena yang dapat ditangkap lewat pancaindra, yaitu indra pendengaran. Dengan kata lain, bahasa adalah perilaku (peri = kata, berperi = berkata, dan laku = perbuatan). Jadi, pernyataan Bloomfiled ini sama dengan pernyataan Skinner yang menyatakan bahwa bahasa adalah verbal behavior.
2. Dalam menganalisis bahasa pelu dibedakan:
· Peristiwa yang mendahului peristiwa berabahasa atau stimulus pertama (S).
· Respons yang dilakukan terhadap stimulus pertama. Salah satu respons adalah perilaku atau perbuatan berbahasa yang berwujud bunyi bahasa. Respon perilaku (r).
· Peristiwa yang terjadi setelah ada respon perilaku (R).
3. Di antara peristiwa a dan c terdapat peristiwa bahasa yang terdiri dari respons bahasa terhadap stimulus. Respons bahasa yang berubah menjadi stimulus (kedua); dan akhirnya respons (R) setelah stimulus kedua.
Dapat digambarkan sebagai berikut:
S_____________ r.........................s _______________ R
Dari penjelasan di atas jelas bahwa bahasa merupakan salah satu wujud tingkah laku manusia yang dinyatakan secara verbal atau dengan kata-kata. Dengan kata lain, bahasa merupakan wujud perilaku manusia yang dapat ditangkap oleh pancaindra. Menurut kaum behavioris, semua keterampilan manusia diperoleh dengan proses belajar, termasuk juga dalam mencapai kemampuan berbahasa.
C. Empirisme/Behaviorisme dalam Kaitannya dengan Perkembangan Bahasa Anak
Manusia yang normal, sejak lahir telah dilengkapi dengan kemampuan belajar. Oleh karena itu, kemampuan berbahasa didapat atau dicapai melalui proses belajar. Hal ini menunjukkan bahwa bahasa itu harus dipelajari. Dengan kata lain, kemampuan berbahasa adalah satu kemampuan hasil belajar dan bukan sebagai sesuatu yang diwarisi.
Ada beberapa aspek linguistik dasar yang bersifat universal dalam otak manusia yang memungkinkan untuk menguasai bahasa tertentu. Sedangkan menurut kaum empiris/behavioris memandang bahwa kemampuan berbahasa merupakan hasil belajar individu dalam interaksinya dengan lingkungan. Penguasaan bahasa merupakan hasil dari penyatupaduan peristiwa-peristiwa linguistik yang diamati dan dialami selama masa perkembangannya. (Tarigan, 1986: 260).
Kaum behavioris menekankan bahwa proses pemerolehan bahasa pertama dikendalikan dari luar diri si anak, yaitu oleh rangsangan yang diberikan melalui lingkungan. Istilah bahasa bagi kaum behavioris dianggap kurang tepat karena istilah bahasa itu menyiratkan suatu wujud sesuatu yang dimiliki atau digunakan, dan bukan sesuatu yang dilakukan. Padahal bahasa itu merupakan salah satu perilaku, di antara perilaku-perilaku manusia lainnya.
Menurut kaum behavioris kemampuan berbicara dan memahami oleh anak diperoleh dari rangsangan dan lingkungannya. Anak dianggap sebagai penerima pasif dari tekanan lingkungannya, tidak memiliki peranan yang aktif di dalam proses perkembangan perilaku verbalnya. Proses perkembangan bahasa ditentukan oleh lamanya latihan yang diberikan oleh lingkungannya
Menurut Skinner (1969), kaidah gramatikal atau kaidah bahasa adalah perilaku verbal yang memungkinkan seseorang dapat menjawab atau reka mengatakan sesuatu. Namun, jika anak dapat berbicara bukanlah karena penguasaan kaidah ”rule governed”, sebab anak tidak dapat mengungkapkan kaidah bahasa melainkan dibentuk secara langsung oleh faktor di luar dirinya.
Kaum behavioris tidak mengakui pandangan bahwa anak dapat menguasai kaidah bahasa dan mempunyai kemampuan untuk mengabstarakan ciri-ciri penting dari bahasa di lingkungannya. Mereka berpendapat rangasangan (stimulus) dari lingkungan tertentu memperkuat kemampuan berbahasa anak. Perkembangan bahasa mereka pandang sebagai suatu kemajuan dari pengungkapan verbal yang berlaku secara acak sampai mencapai kemampuan yang sebenarnya untuk berkomunikasi melalui prinsip pertalian S – R (stimulus-respons) dan proses peniruan-peniruan.
Menurut para penganut teori behaviorisme, penggunaan bahasa merupakan asosiasi yang terbentuk melalui proses persyaratan klasikal, persyaratan operant atau instrumental dan pengantara.
1. Persyaratan Klasikal
Persyaratan Klasikal ada sangkut pautnya dengan Pavlov, seorang fisiolog Rusia pada abad 20. Dalam percobaannya tahun 1902, Pavlov membunyikan lonceng dan sesudah itu menyemprotkan bubuk daging pada mulut anjing, membuat anjing itu mengeluarkan air liur. Kemudian Pavlov menemukan anjing-anjing itu akan mengeluarkan air liur sebaik mendengar bunyi lonceng walaupun sebelum itu bubuk daging telah disodorkan. Jadi, melalui persyaratan klasikal diutarakan suatu hubungan antara mendengar bunyi lonceng dan pengeluatan air liur yang belum dikenal sebelumnya. Lonceng itu disebut perangsang bersyarat (berkondisi) sedangkan bubuk daging disebut perangsang tidak bersyarat (tidak terkondisi). Pengeluaran air liur adalah jawaban bersyarat terhadap lonceng dan merupakan jawaban tak bersyarat terhadap bubuk daging.
Ada tiga parameter yang dikenakan Pavlov melalui teori classical conditioning, yaitu reinforcemen, extincetion, and spontaneous recovery (penguatan, penghilangan, pengembalian spontan). Menurut Pavlov respon terkondisi yang paling sederhana diperoleh melalui serangkaian penguatan yaitu tindak lanjut atau penguatan yang terus berulang dari suatu stimulus terkondisi yang diikuti stimulus tak terkondisi dan respon tak terkondisi pada interval waktu tertentu. Dengan demikian, pembentukan respon terkondisi pada umumnya bersifat bertahap. Makin banyak stimulus terkondisi diberikan bersama-sama stimulus tak terkondisi, makin mantaplah respon terkondisi yang terbentuk, sampai pada suatu ketika respon terkondisi akan muncul walaupun tanpa ada stimulus tak terkondisi.
2. Persyaratan Instrumental
Persyaratan instrumental (operant conditioning) dikembangkan oleh B.F. Skinner pada pertengahan pertama abad 20, dengan penekanan yang tidak begitu berat pada hubungan dua kesatuan tingkah laku seperti yang terjadi pada penambahan frekuensi serta intensitas suatu kesatuan tingkah laku dan yang diberi imbalan atau hadiah, maka organisme itu cenderung menghasilkan sebuah perilaku dengan frekuensi serta intensitas yang lebih besar dari pada yang sebenarnya dihasilkannya. Contoh nyata dari laboraturium binatang, yaitu seekor tikus yang lapar dalam sebuah kandang kecil yang berjeruji besi. Walaupun menekan jeruji bukanlah hal yang biasa dilakukan oleh tikus (para behavioris akan mengatakan bahwa responsi penekanan jeruji itu pada dasarnya tidak ada dalam daftar responsi tikus), namun tikus itu mungkin saja akan menekan jeruji itu secara kebetulan waktu menjelajahi kandang tersebut. Kalau pendorongan jeruji itu segera diikuti oleh makanan, dan kalau setiap pendorongan jeruji berikutnya diikut oleh makanan, maka tikus itu akan memperbesar keseringan perilaku pendorongan-jerujinya itu.
Pernyataan bahwa ganjaran atau hadiah akan memperbesar intensitas serta frekuensi sesuatu responsi disebut hukum pengaruh. Ada beberapa istilah baru yang berhubungan dengan persyaratan instrumental ini. Responsi dikatakan sebagai suatu contoh perilaku instrumental. Butir-butir makanan itu disebut penguatan positif dan dipertentangkan dengan perlengkapan persyaratan lain yang disebut penguatan negatif, suatu perangsang berbahaya yang akan dihindari oleh binatang.
Kalau kita ingin memadamkan response penekanan jeruji sesudah latihan butir makanan, maka kita dapat menakut-nakuti tikus setiap kali ia menekan jeruji itu. Kejutan kecil ini disebut hukuman dan dipergunakan untuk memadamkan suatu responsi.
3. Pengantara/Mediasi
Prinsip ini mengatakan bahwa dua hal/benda yang berhubungan dengan hal/benda ketiga, akan cenderung berhubungan satu sama lain. Contohnya adalah pembuatan daftar yang dipelajari manusia, yang berupa daftar pasangan jodoh. Suatu daftar pasangan jodoh adalah seperangkat pasangan kata yang biasanya tiada hubungan apa-apa, seperti “sapi --- gambar”, “buku --- jamur” dan sebagainya. Tugas subjek dalam percobaan ini adalah meresponsi unsur kedua pada setiap pasangan sebaik melihat/mendengar anggota pertama, yang bertindak sebagai perangsang. Penelitian terhadap jenis belajar ini telah memperlihatkan bahwa bila kita mempelajari daftar kedua pasangan “gambar --- dapur”, maka kita akan mempelajari pasangan “sapi --- dapur” dengan sangat cepat pada daftar ketiga. Dapat digambarkan sebagai berikut:
( I ) = sapi – gambar
( II ) = gambar – dapur
( III ) = sapi – dapur
Prinsip pengantara menjelaskan bahwa hubungan antara “sapi” dan “dapur” terletak diantara “gambar” walaupun “gambar” tidak ada pada daftar ketiga itu. Rangkaian hubungan yang nyata adalah “sap-gambar-dapur”, tetapi responsi “gambar” merupakan mata rantai dalam/mata rantai penghubung yang disusun serta ditetapkan melalui (proses) belajar terdahulu. Dalam contoh di atas, yang berfungsi sebagai perantara adalah gambar.
Asumsi behavioris bahwa pengetahuan linguistik terdiri atas rangkaian-rangkaian asosiasi yang dapat memberikan penjelasan mengenai belajar bahasa. Asosiasi-asosiasi itu adalah persyaratan klasikal, persyaratan instrumental, dan pengantara. Dari ketiga asosiasi tersubut, maka dua yang terakhir (persyaratan instrumental dan pengantara) yang telah dikembangkan sebagai teori-teori belajar bahasa.
Teori belajar bahasa yang paling erat berhubungan dengan persyaratan instrumental menyatakan bahwa perilaku berbahasa seorang individu ditentukan oleh urutan ganjaran-ganjaran yang berbeda dalam lingkungannya. Perhitungan teoretis ini menuntut bahwa bayi meraban menghasilkan semua bunyi bahasa-bahasa dunia. Akan tetapi para orang tua bayi hanyalah memberi penghargaan pada bunyi-bunyi yang terdapat pada bahasa pribumi rumah tangga saja dan sang bayi menjadi hanya terbiasa menghasilkan bunyi ujaran-ujaran yang diberi penghargaan saja. Bunyi-bunyi digabungkan menjadi kata-kata, beberapa secara tidak sengaja oleh anak-anak, sebagian lagi dengan jalan meniru ucapan-uacapan orang dewasa. Sedang kata-kata yang salah satu atau tidak tepat sudah tentu tidak mendapatkan penghargaan.
[1] Korpus adalah kumpulan ajaran tertulis atau lisan yang dipergunakan untuk menyokong atau menguji hepotesis tentang struktur bahasa. (Harimurti Kridalaksana, Kamus Linguistik, Jakarta: PT Gramedia,). hlm.137.
[2] Harimurti Kridalaksana, Kamus Linguisti,( Jakarta: PT Gramedia), hlm. 57
[3] Drs. H. M. Alisuf Sabri, psikologi pendidikan, ( Jakarta: Pedoman Ilmu Jaya), hlm 36.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar