Sabtu, 30 April 2011

Metodoligi Penelitian


A.    Hakikat Penelitian Kuantitatif
Penelitian kuantitatif merupakan penelitian pada bidang ilmu-ilmu eksakta dengan aktivitas yang didasarkan pada disiplin ilmiah dari masing-masing ilmu, juga menggunakan materi perlakuan yang tersusun dalam rancangan-rancangan yang sudah baku dengan tujuan untuk menemukan solusi dari suatu permasalahan[1].
Dari definisi di atas, memberikan pemahaman bahwa pendekatan atau metode kuantitatif lazim digunakan dalam disiplin ilmu sains dan eksakta. Namun metode kuantitatif juga banyak digunakan dalam penelitian pendidikan. Penelitian kuantitatif pada ilmu sosial atau pendidikan, tugas peneliti adalah menguji suatu teori-teori pendidikan dengan cara membuat hipotesa-hipotesa, membuat instrumen, menguji hipotesa, dan membuktikan hipotesanya. Menurut Creswell, dalam penelitian kuantitatif,  penelitian yang dilakukan harus didasarkan pada pengujian data, bilangan-bilangan, serta melakukan analisis dari suatu teori tertentu.
Ciri khas penelitian kuantitatif adalah adanya sumber teori yang kuat, hipotesis, definisi operasional, sampling, proses pengumpulan data dengan angket, adanya pembuatan instrument, pengujian, perhitungan, pengujian hipotesis dan penelitian tersebut penuh dengan angka-angka statistik.
Dari segi tujuan, penelitian kuantitatif biasanya digunakan untuk menguji suatu teori, untuk menyajikan suatu fakta atau mendeskripsikan statistik, untuk menunjukkan hubungan antar variabel, dan ada pula yang bersifat mengembangkan konsep., mengembangkan pemahaman, atau mendeskrispsikan banyak hal. Sedangkan penelitian kualitatif lebih cenderung dipakai untuk mengkaji objek berdasarkan pertanyaan-petanyaan yang muncul.
Dari segi metode, penelitian kuantitatif umumnya menekankan pada eksperimentasi, deskripsi, survey, dan menemukan korelasional. Sedang penelitian kualitatif cenderung menekankan pada observasi, dokumentasi, atau melakukan partisipasi (meneliti objek menyeluruh dan terus-menerus).
Dalam penelitian kuantitatif harus menyajikan proposal yang bersifat lengkap, rinci, prosedur yang spesifik, literatur yang lengkap, dan hipotesis yang dirumuskan harus jelas. Sedang pada penelitian kualitatif, proposalnya lebih singkat dan tidak banyak kajian literatur, pendekatan  dijabarkan secara umum, dan biasanya tidak menyajikan rumusan hipotesis.

B.        Metode Penelitian Kuantitatif
Berdasarkan ciri-ciri yang dimiliki dalam menyelesaikan suatu masalah, penelitian kuantitatif terbagi dalam tiga kategori[2], yaitu:
1.   Penelitian Deskriptif
Penelitian deskriptif menuturkan dan menafsirkan data yang berkenaan dengan situasi yang terjadi dan dialami sekarang, hubungan antarvariabel, pertentangan dua kondisi atau lebih, pengaruh terhadap suatu kondisi, perbedaan-perbedaan antarfakta, dll. Masalah-masalah yang diamati dan diselidiki di atas memungkinkan penelitian deskriptif memiliki metode yang mengarah pada: studi komparatif, yaitu membandingkan persamaan dan perbedaan gejala-gejala tertentu; studi kuantitatif yang mengukur dan menampilkan fakta melalui teknik survey, tes, interview, angket, dll; bisa pula menjadi sebuah studi korelasional satu unsur dengan unsur lainnya.
Kegiatan studi deskriptif meliputi pengumpulan data, analisis data, interpretasi data, serta diakhiri dengan kesimpulan yang didasarkan pada penganalisisan data tersebut.
Bentuk penelitian deskriptif, yaitu:
a.       Studi Kasus
Studi kasus memusatkan perhatian pada suatu kasus secara intensif dan mendetail. Subjek yang diteliti terdiri dari satu unit yang dipandang sebagai kasus. Karena studi kasus sifatnya mendalam dan mendetail, maka studi kasus pada umumnya menghasilkan gambaran yang longitudinal, yaitu hasil pengumpulan dan analisis data dalam satu jangka waktu. Kasusnya dapat terbatas pada satu orang, satu lembaga, satu keluarga, satu peristiwa, satu desa, ataupun satu kelompok manusia yang dipandang sebagai satu kesatuan. Segala hal yang mempunyai arti dalam riwayat kasus, misalnya peristiwa terjadinya, perkembangannya, dan perubahan-perubahannya, mendapat perhatian sepenuhnya dari peneliti.
Dengan demikian, studi kasus akhirnya memperlihatkan kebulatan dan keseluruhan kasus, dan keseluruhan interaksi faktor-faktor dalam kasus-kasus itu. Fokus utama dalam studi kasus adalah menjawab pertanyaan apa, mengapa, dan bagaimana.
b.      Studi Survei
Survei pada umunya merupakan cara pengumpulan data dan sejumlah unit atau individu dalam jangka waktu yang bersamaan dalam jumlah besar dan luas. Survei berusaha mengungkap jawaban melalui pertanyaan apa, bagaimana, berapa, bukan pertanyaan mengapa. Tujuan utamanya adalah mengumpulkan informasi tentang variabel, bukan informasi tentang individu-individu. Karena itu, metode ini lebih menekankan pada penentuan informasi tentang variabel daripada informasi tentang individu. Survei digunakan untuk mengukur gejala-gejala yang ada tanpa menyelidiki kenapa gejala-gejala tersebut ada. Survei mempunyai dua lingkup, yaitu sensus dan survei sampel. Sensus adalah survei yang meliputi seluruh populasi yang diinginkan, sedangkan sampel dilakukan hanya pada sebagian kecil dari suatu populasi.
c.       Studi Korelasi
Penelitian ini dirancang untuk menentukan tingkat hubungan variabel-variabel yang berbeda dalam suatu populasi. Hubungan antardua variabel tidak saja dalam bentuk sebab akibat, tetapi juga hubungan timbal balik antara dua variabel. Korelasi dikatakan menunjukkan sebab akibat jika sebelumnya sudah diketahui bahwa antara kedua gejala yang dicari hubungannya terdapat saling ketergantungan.
Studi korelasi tidak terlalu menuntut sampel yang besar, asalkan variabelnya dapat diukur dan adanya alat ukur yang handal, sebab faktor yang paling berpengaruh terhadap besar kecilnya tingkat hubungan adalah keterandalan instrument yang digunakan untuk mengukur variabel-variabelnya.



2.   Penelitian Eksperimen
Penelitian eksperimen adalah penelitian yang melihat dan meneliti adanya akibat setelah subjek dikenai perlakuan pada variabel bebasnya. Jadi, penelitian eksperimen adalah penelitian yang bertujuan melihat hubungan sebab-akibat.
Sebagian orang menganggap bahwa penelitian eksperimen relevan dengan sains. Ini disebabkan oleh pengamatan sebagian orang bahwa yang namanya penelitian eksperimen dilakukan oleh ahli-ahli biologi, kimia, fisika, dan ilmu-ilmu eksakta lainnya di ruangan tertutup/laboratorium.
Akhir-akhir ini metode eksperimen mulai populer dan banyak dipakai pada ilmu-ilmu sosial, bahasa, atau pendidikan. Pada bidang pendidikan, misalnya para mahasiswa yang menyelesaikan studinya melalui skripsi banyak dijumpai penelitiannya menerapkan uji coba. Contohnya, “Pengaruh Teknik Mengajar Ceramah terhadap Prestasi Belajar Siswa”.
3.   Penelitian Kausal Komparatif (Ex-Post-Facto)
Penelitian ini bertujuan membandingkan dua atau tiga peristiwa yang sudah terjadi melalui hubungan sebab akibat dengan cara mencari sebab-sebab terjadinya peristiwa berdasarkan pengamatan akibat-akibat yang mungkin tampak dan teramati.
Penelitian hubungan sebab-akibat ini dilakukan terhadap program, kegiatan, atau kejadian yang telah berlangsung atau telah terjadi. Adanya hubungan sebab akibat didasarkan atas kajian teoretis, bahwa suatu variabel disebabkan atau dilatarbelakangi oleh variabel tertentu atau mengakibatkan variabel tertentu. Contohnya dalam judul: “Pengaruh Bahasa Ibu, Lingkungan di Luar Rumah, dan Pelajaran Bahasa Indonesia di SMA terhadap Kemahiran Berpidato Mahasiswa Tingkat 1 Jurusan Bahasa Indonesia.”
Identifikasi Masalah:
·         Peneliti beranggapan bahwa ada hubungan kausal antara ketiga faktor pada judul di atas terhadap kemahiran berpidato. Pelajaran bahasa Indonesia di SMa berpengaruh terhadap kemahiran.





C.     Perbedaan Penelitian Kuantitatif dan Kualitatif

Karakteristik Masing-masing Pendekatan (Sugiyono, 2010)
KUANTITATIF
KUALITATIF
Desain: spesifik, jelas, rinci, ditentukan secara mantap sejak awal dan menjadi pegangan langkah demi langkah.
Desain: umum, fleksibel, berkembang dan muncul dalam proses penelitian

Tujuan: menunjukkan hubungan antar variabel, menguji teori, memprediksi.
Tujuan: menemukan pola hubungan yang bersifat interaktif, menemukan teori, menggambarkan realitas yang kompleks, memperoleh pemahaman makna

Teknik pengumpulan data: kuesioner, observasi dan wawancara terstruktur.
Teknik pengumpulan data: observasi partisipan, interview mendalam, dokumentasi dan tringulasi
Instrumen: tes, angket, wawancara terstruktur.
Instrumen: peneliti sbg instrumen, buku catatan, tape recorder, camera, handycam, dll.
Data: kuantitatif, hasil dari pengukuran variabel yang dioperasionalisasikan dengan menggunakan instrumen
Data: deskriptif kualitatif, dokumen pribadi, catatan di lapangan, ucapan dan tindakan responden, dokumen, diary, dll.
Peneliti memutuskan masalah yang ingin dikaji, pertanyaan spesifik dan menyempit dan objektif
Peneliti bergantung pada pandangan partisipan, pertanyaan luas dan umum, dan subjektif.
Menggunakan data numerikal dan menggunakan analisis statistik.
Data berupa teks atau gambar dan menggunakan analisis tematik




[1] Nuraida dan Halid Al Kaf, Metodologi Penelitian Pendidikan, (Ciputat: Islamic Research Publishing), hlm.31
[2]  Subana dan Sudrajat, Dasar-dasar Penelitian Ilmiah, ( Bandung: Pustaka Setia), hlm. 26.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar