Roman Bunga Roos dari Cikembang (BRDC) merupakan sebuah karya dari seorang Tionghoa bernama Kwee Tek Hoay (KTH). Banyak hal menarik yang dipaparkan oleh KTH dalam roman BRDC ini, misalnya mengenai kawin campur dan pernyaian. Menurut pengamatan penulis, tema tersebut sudah sering dibahas dalam diskusi, sehingga penulis mencoba mencari hal menarik lain dalam roman BRDC ini. Berdasarkan analisa penulis, hal menarik lain dari BRDC adalah mengenai hubungan antara Tionghoa dan pribumi yang digambarkan secara baik tanpa ada permasalahan serius di dalamnya. Hal ini berbeda sekali dengan penggambaran hubungan suram antara Tionghoa dan pribumi yang selama ini kita dengar atau kita baca dalam teks sejarah. Dalam hal ini, KTH menggambarkan adanya hubungan yang harmonis masyarakat Tionghoa dan pribumi. Meskipun di dalam penyampaiannya, KTH menceritakan masyarakat pribumi yang selalu patuh dan hormat kepada masyarakat Tionghoa, karena memang masyarakat Tionghoa adalah tuannya (majikannya). Hubungan yang harmonis tersebut dapat terlihat dari hubungan antara tokoh Ay Tjeng yang menjadi administrator di perusahaan karet di Sukabumi dengan Tirta, pembantu Ay Tjeng. Meskipun dalam hubungan ini ditemukan hubungan antara majikan dan pembantu yang pada intinya memang pembantu harus taat dan patuh pada majikannya, namun dalam roman ini dijelaskan tentang sikap baik hati dan setia kawan Tirta yang menjadikan Ay Tjeng sangat percaya kepadanya. Sehingga Ay Tjeng merasa seperti kehilangan sebelah tangannya ketika Tirta pergi untuk mencari Marsiti. Seperti terlihat pada BRDC:
“Maka dengan perginya Tirta, Ay Tjeng merasa seperti kailangan ia punya sablah tangan.” (hlm. 325)
Berdasarkan kutipan di atas, dapat dijadikan sebagai bukti bagaimana KTH ingin menunjukkan keharmonisan yang ada dalam Tionghoa dan pribumi dengan jalan memberikan simpati terhadap sikap Tirta yang baik dan setia sehingga Ay Tjeng bisa percaya kepadanya.
Keharmonisan hubungan antara Tionghoa dan pribumi ini juga ditunjukkan oleh KTH melalui hubungan antara tokoh Ay Tjeng dengan Marsiti, yang menjadi “nyai” Ay Tjeng. Dalam BRDC ini, KTH memperlihatkan sikap positif seorang Tionghoa yang peduli dan bertanggung jawab pada nyai yang menjadi “gundiknya”. Terlihat dari sikap Ay Tjeng yang tak mau meninggalkan Marsiti ketika Ay Tjeng dijodohkan dengan Gwat Nio. Meskipun pada akhirnya Ay Tjeng tidak bisa membantah perintah orang tuanya dan harus meninggalkan Marsiti. Namun hal ini tidak akan terjadi jika Marsiti tidak pergi dari rumah Ay Tjeng. Jika Marsiti lebih memilih untuk tetap tinggal di rumah Ay Tjeng, pasti Ay Tjeng akan tetap memilih Marsiti. Hal ini terlihat bahwa setelah Ay Tjeng menikah dengan Gwat Nio, Ay Tjeng tetap tak bisa melupakan Marsiti dan bisa menerima Gwat Nio karena dia mempunyai kemiripan dengan Marsiti. Selain itu, setelah diketahui bahwa Marsiti mempunyai anak dari Ay Tjeng yang bernama Roosminah, Ay Tjeng dan Gwat Nio pun mau menerima kehadiran Roosminah. Bahkan, Gwat Nio memperlakukan Roosminah seperti anaknya sendiri. Hal ini memperlihatkan bahwa Ay Tjeng sangat bertanggung jawab terhadap nyai yang dipilihnya, memperlakukannya dengan baik dan juga mau menerima dan mendidik dengan baik anak yang diperolehnya dari nyai itu. Dengan kata lain, melalui tokoh Ay Tjeng dan Marsiti ini, KTH ingin menanamkan tujuannya yaitu untuk menghapus prasangka buruk terhadap seorang nyai dan anak-anaknya yang biasanya tidak diperlakukan selayaknya dalam keluarga Tionghoa. Dari kedua bukti di atas, terlihat bahwa melalui BRDC ini, KTH ingin memperlihatkan hubungan harmonis yang tercipta antara Tionghoa dan pribumi dan menafikkan hubungan suram yang selama ini ada dalam sejarah dunia.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar