Selasa, 26 April 2011

KETERBELENGGUAN KETIGA TOKOH DALAM ROMAN BELENGGU KARYA ARMIJN PANE


Roman Belenggu memaparkan  kehidupan para tokoh yang terbelenggu oleh keegoisan masing-masing tokoh, yaitu dr. Sukartono (Tono) dan isterinya Sumartini (Tini), serta selingkuhan Tono yang bernama Rohayah (Yah). Hal ini mempelihatkan  gambaran sebuah keluarga terpelajar yang gagal dalam membangun rumah tangga. Keterbelengguan tokoh disebabkan oleh rasa egois yang tak terkendali, sehingga tidak memunculkan sebuah kebahagiaan dalam berumah tangga.
Tono merupakan seorang dokter yang sangat peduli terhadap pasien-pasiennya. Setiap hari, siang maupun malam selalu sibuk dengan pasien. Ia justru mengabaikan isterinya  Tini  yang berparas cantik.   Tini merasa, Tono egois. Tono menikahi Tini, tidak didasari cinta, melainkan hanya menganggap Tini pantas untuk menjadi istrinya. Sebaliknya di dalam diri Tini juga berkecamuk sikap yang sama karena ia menikah dengan Tono hanya sekedar ingin melupakan masa lalunya.
Pertengkaran di dalam rumah tangga menjadi hal biasa. Konflik yang terjadi dalam rumah tangga Tono dan Tini menjadi inti dari novel Belenggu. Konflik dari dua pribadi yang sama-sama egois. Konflik itu diperparah dengan hadirnya tokoh ketiga, Rohayah (Yah), teman Tono pada waktu masih di Sekolah Rakyat dulu. Diam-diam Yah memendam rasa cinta terhadap Tono. Yah juga merupakan pribadi yang gagal dalam berumah tangga. Tidak rela dipaksa kawin oleh orang tuanya, ia  pergi ke Jakarta. Tragisnya, Yah  di Jakarta menjadi seorang wanita panggilan yang selalu kesepian. Ketika tahu keberadaan Tono, Yah segera menghubunginya. Berpura-pura menjadi orang  yang sedang sakit, dan Yah berhasil  mengelabui Tono sehingga Tono pun masuk perangkap.
Bukti keterbelengguan tokoh Tono terlihat dari pernikahannya. Dia tidak mendapatkan kebahagiaan dengan pernikahan yang dijalaninya dengan Tini. Pernikahan hanya dijadikannya sebagai alat untuk mempertahankan kedudukan dan statusnya, yaitu dengan menikahi Tini, gadis yang pintar, cantik, dan terpelajar. Status sosial Tini inilah yang dijadikan bahan pertimbangan Tono, sehingga Tini dianggap paling pantas menjadi pendamping seorang dokter. Hal senada juga terjadi dalam diri Tini. Dia terbelenggu dengan pernikahan yang dijalaninya. Di samping untuk melupakan masa lalunya, Tini beranggapan bahwa menikah dengan  seorang dokter dapat meningkatkan kedudukannya dan dapat mendukung kegiatannya sebagai aktivis perempuan. Ternyata dugaannya salah. Karena dengan pernikahan yang dijalaninya, dia merasa terkungkung dalam penjara. Bahkan, yang dia rasakan hanya kepedihan karena hanya  pertikaian yang ada dalam  rumah tangganya. Kemudian  bagaimana dengan Yah? Dia kecewa dengan nasibnya. Karena dipaksa kawin oleh orang tuanya, dia lari ke Jakarta. Bukan menjadi wanita terhormat, melainkan terjerumus menjadi seorang ”kupu-kupu malam” yang selalu berganti-ganti teman laki-laki. Jiwa Yah juga menggambarkan bahwadia sedang terbelenggu oleh langkah yang salah.
Pada akhirnya, ketiga tokoh tersebut bisa terbebas dari keterbelengguannya. Terbebasnya belenggu dari ketiga tokoh itu dapat kita lihat pada kata-kata masing-masing tokoh.  Setelah berpisah dengan Tini dan Yah, dr. Tono merasa ”...baru bangun dari mimpi, seolah-olah selama ini ada yang membelenggu pikiran dan angan-angannya, kini belenggu itu berdering jatuh ke tanah, ...”. (hlm. 148). Tini juga merasa di dalam hatinya menjadi tenang karena: ”Haru biru yang selama ini dalam hatinya sudah hilang sama sekali. Belenggu yang sebagai mengikat semangatnya sudah terlepas. Di dihadapan mata semangatnya dengan terang memanjang jalan yang ditempuhnya”. (hlm. 136). Demikian pula halnya dengan Yah, setelah perpisahan itu juga telah menemukan dunia baru, terbebas dari belenggu yang selama dia rasakan. Kesimpulan ini didapat dari kalimat:”..Yah tersenyum, sambil menangis... dia merasa belenggu dahulu, waktu belum ketemu Tono, terkunci lagi, tetapi belenggu itu terasa ringan, menerbitkan perasaan gembira yang tidak terhingga...”. (hlm. 149).
Pada akhirnya ketiga tokoh tersebut bisa terbebas dari keterbelengguannya. Tono dan Tini bisa terbebas dari belenggu pernikahan yang selama ini menghimpitnya, sedang Rohayah merasa bebas dengan meninggalkan kehidupannya sebagai “kupu-kupu malam” dan juga melupakan obsesinya untuk mendapatkan Tono. Hal menarik lain dalam roman ini adalah dalam mengakhiri ceritanya. Armijn memilih berbeda dengan pengarang-pengarang novel  sejamannya yang cenderung memihak kepada salah satu tokoh atau mematikan salah satu tokohnya. Armijn justru mengakhiri cerita Belenggu dengan cara yang adil bagi  ketiganya. Tidak ada tokoh yang dikalahkan atau dimatikan. Mereka berpisah, tetapi dari perpisahan itu ketiganya merasa telah terbebas dari ”belenggu” perasaan masing-masing.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar