Selasa, 26 April 2011

KRISIS IDENTITAS TOKOH HANAFI DALAM ROMAN SALAH ASUHAN KARYA ABDOEL MOEISKRISIS IDENTITAS TOKOH HANAFI DALAM ROMAN SALAH ASUHAN KARYA ABDOEL MOEIS


Roman Salah Asuhan karya Abdul Muis merupakan salah satu roman penting yang diterbitkan oleh Balai Pustaka. Permasalahan yang diangkat tidak lagi seperti roman-roman yang ada pada roman-roman sebelumnya yang lebih menekankan permasalahnnya pada kawin paksa. Justru dalam roman Salah Asuhan ini pengarangnya memperlihatkan realitas yang ada pada masa itu, yaitu mengenai akibat-akibat lebih jauh dari pertemuan budaya Eropa dengan anak-anak bangsa yang telah mengenal pendidikan sekolah kolonial Belanda.
Permasalahan di atas terlihat dari perwatakan tokoh utamanya, yaitu Hanafi. Hanafi adalah remaja Solok, Sumatra Barat yang oleh keinginan ibunya, dia di sekolahkan di Jakarta agar bisa memperoleh kehidupan yang terpandang. Di Jakarta, dia tinggal dan dididik oleh orang Belanda. Setamatnya dari HBS, Hanafi diminta ibunya untuk kembali ke Solok karena sang ibu telah menginjak usia tua. Karena kepatuhannya kepada sang ibu, Hanafi pun mengiyakannya. Berkat bantuan orang-orang tertentu, Hanafi bisa bekerja di gedung pemerintahan di kampungnya. Setelah tinggal di Solok, ternyata banyak sekali pemikiran Hanafi yang jauh menyimpang dari pemikiran seorang bumiputra. Pola pikir dan gaya hidup Hanafi sangat jauh berbeda dengan pola pikir dan gaya hidup bumiputra yang sesungguhnya. Hanafi sangat mengagumi bangsa Eropa  dan berkeinginan untuk menjadi warga Eropa. Sebaliknya, dia sangat membenci bangsanya sendiri dan menganggap bahwa adat timur itu jelek dan dia selalu menyalahkan kenapa dia terlahir sebagai seorang bumiputra. Hal itu dapat terlihat dalam kutipan:
“….Bahwa negeri Minangkabau sungguh indah, hanya sayang sekali penduduknya si Minangkabau….” (hlm. 26)
“…Hanafi menyumpahi dirinya, karena ia dilahirkan sebagai Bumiputra!” (hlm. 55)
Sikap Hanafi yang selalu mengunggulkan Eropa dan selalu menampikkan adat istiadat (timur), itu didasari karena sedari remaja dia telah diasuh oleh orang Belanda, yang otomatis cara dan sistem pendidikannya berpedoman pada pendidikan Belanda. Alah bisa karena terbiasa, pribahasa inilah yang mengisyaratkan bahwa seseorang yang telah terbiasa akan sesuatu, pasti akan bisa untuk mengikutinya. Hal ini pula yang terjadi pada diri Hanafi. Kebiasaannya akan pendidikan Belanda yang diperolehnya setiap hari, menjadikan Hanafi terbiasa untuk mengikuti dan melakukan tradisi Barat yang diperolehnya itu. Sikap Hanafi yang dengan mudahnya menerima budaya Belanda ini juga didukung oleh lingkungannya di sekitarnya yang sebagian besar adalah orang Barat dan juga orang bumiputra yang kebarat-baratan.  Setelah Hanafi kembali ke kampung halamannya pun Hanafi tetap memilih untuk berlaku layaknya orang Barat dan hanya mau bergaul dengan orang Barat saja.
Semirip-miripnya orang kembar, pasti keduanya tetap menyimpan perbedaan. Istilah ini juga yang berlaku pada diri Hanafi. Sepandai-pandainya Hanafi mengikuti tradisi layaknya orang Barat yang sebenarnya dan pandai bergaul dengan orang Barat di sekitarnya, tetap saja Hanafi bukan orang Barat. Meskipun pendidikan, gaya hidup, pakaian, dan tempat tinggal layaknya orang Barat, namun darah tetap ketimuran. Hai inilah yang menjadikan Hanafi belum diterima seutuhnya oleh orang Barat. Karena mereka menganggap ras Barat dan Timur sungguh sangat berbeda dan tak mungkin dapat dipersatukan meski  di luarnya mereka kelihatan mirip.
Dalam hal ini dapat dikatakan bahwa tokoh Hanafi dalam roman Salah Asuhan ini mengalami krisis identitas karena telah tergelincir pada jalan pilihannya sendiri. Pada kenyataanya dia tetap ditolak oleh lingkungan masyarakat Barat meskipun dirinya telah berusaha untuk menyamakan kedudukannya. Di sisi lain, Hanafi pun telah dikucilkan oleh lingkungan di kampung halamannya karena telah menjatuhkan nama Timur dengan menganggap bahwa Barat lebih baik daripada Timur. Dalam kenyataannya, tokoh Hanafi merupakan potret nyata dari generasi muda terpelajar  zaman itu. Interaksi bumiputra dengan pendidikan dan kebudayaan Barat itu memercikkan ancaman lain, yaitu seseorang akan tercabut dari akarnya dan  akhirnya akan menjadi  piatu" dari adat-istiadat leluhurnya.




Tidak ada komentar:

Posting Komentar